Jumat, 30 September 2011

"Meminta pada Sang Pemilik"

Malam ini, dalam lubuk kepalaku barfikir keras. buncahan pertanyaan sempat memenuhi otak sempit ini. dan... aku hanya bisa bergumam :

keberhasilan..??
Apa sebenarnya hakikat keberhasilan?

ketika ada sebuah pintu. dan semua orang sangat berantusias tuk membuka pintu itu. kita bisa melihat satu persatu apa yang mereka lakukan untuk berusaha membuka pintu tersebut.

ada seseorang dengan perjalan sangat jauh lagi banyak tantangan, namun sesampai tepat di depan pintu, Ia sudah merasa lelah, dan tidak mampu lagi tuk membukanya.

ada lagi sesorang, untuk mencapai pintu itu ia harus menaiki tangga begitu tinggi. lalu dengan rasa angkuh, merasa sudah berada di atas, merasa sudah mampu, namun pintu tetap saja tidak bisa terbuka.

Ada lagi seseorang, yang dengan paksa membuka pintu itu, mungkin dengan cara digedor, dipukul, bahkan bisa saja dengan menggunakan alat keras lainnya, namun pintu tetap saja rapat.

hmm.. kalau saja mereka menyadari bahwa pintu itu ada yang memiliki. dan kenyataanya mereka telah "LUPA" bahwa dengan seizin pemiliknyalah kita bisa membuka pintu itu. Andaikan kita mampu tuk mengetuk hati sang pemilik pintu, maka dengan tulus ia akan memberikan kunci pintu itu. Dengan begitu kita bisa membukanya, dan masuk dengan hati tenang.

....^^.....

Dan saat ini, aku mulai belajar tuk mengerti.
memang segala yang ada di Jagat raya ini adalah milik-Nya.
Dia-lah sang Khaliq, yang telah Menciptakan segala sesuatu.
Maka apa pun yang aku inginkan. sudah semestinya aku meminta ridho-Nya.

Tuk Teman hidup..??
sebesar apapun usaha yang telah kita lakukan.
semua itu sama saja akan sia-sia, ketika kita lupa tuk meminta pada Sang pemilik.
Dengan segenap usaha dan doa, serta mengharap "ridho-Nya"



[ malam sunyi yg telah menganugrahi ^_^,. ]

Minggu, 11 September 2011

“ Abu Musthafa “

Siang itu, udara di Mesir cukup membuat ubun-ubunku makin mendidih. Dengan suhu panas yang tinggi ini, membuat kebanyakan orang mengurungkan niatnya tuk keluar dari rumah. Aku yang kebetulan baru pulang kuliah, berjalan menelusuri gang Gami’ (salah satu gang di H-10) bagaikan berjalan di tengah-tengah gurun sahara yang sama sekali tak ada tempatku tuk berlindung dari teriknya matahari.

Huuuuuufh… betul-betul melelahkan. Beginilah hanya secuil gambaran perjuanganku untuk beradaptasi dengan keadaan di Negeri ini.

Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi tepat ketika aku sudah masuk di gerbang flat. Dengan sedikit mengerutkan dahi, aku baca sebuah massage yang baru masuk.

“Vra, gas dan keran air dapur bermasalah lagi, kita minta tolong kalau anti pulang, hampiri Osama ya. Mksh”

Hhhh.. aku hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa massage ini baru sampai ketika aku sudah menutup gerbang flat, berarti itu sama saja aku harus keluar lagi, tuk menemui Osama (beliau adalah salah satu orang yang punya toko peralatan bangunan di Gami’)

Tak terbayang olehku, kalau saja sms itu tiba-tiba muncul ketika aku sudah berada di tingkat tiga atau empat, dan seterusnya. Haruskah aku turun lagi? Ya emang flat kami berada paling atas (tingkat enam) plus tidak ada lift. jadi sudah terbiasa tuk selalu olah raga dengan menaiki satu persatu anak tangga yang berjumlah 120 itu.

Di tengah perjalanan menuju toko Osama, Aku menjumpai sosok orang tua juga sepuh, beliau duduk di bawah pohon yang trnyata juga tak begitu rindang. tidak salah lagi, dialah abu musthafa. Tempat itu adalah tempat kegemarannya. Tiap kali melintasi jalan itu, pasti kita menemukan beliau sedang duduk santai di situ.



Abu musthafa tinggal sendiri di Cairo ini. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Padahal beliau punya satu anak bernama “mushtafa”, dengan itu beliau kerap dipanggil “abu musthafa”. Konon, kabarnya si anak ntah pergi kemana,sampai bertahun-tahun tidak kunjung pulang. Hinggalah kini Abu Musthafa hidup sebatangkara.

“Assalamu alaik ya baba” Sapaku. (baba adalah panggilan ayah tuk orang mesir)

“Wa’aliki salam ya aisyah” jawabnya. (beliau memang menggilku dengan nama aisyah, karena dengan nama asliku “Avra” katanya susah tuk melafalkannya, tapi hanya beliau saja yang memanggilku dengan nama itu). Lalu Beliau bertanya tujuanku hendak kemana.

Akhirnya, aku hanya bisa jelaskan dengan singkat masalah gas dan keran air yang rusak, lalu aku berniat mau ke toko Osama.

Kami memanglah tinggal di flat yang di dalamnya adalah putri semua, jadi maklum kalau ada perabotan rumah yang bermasalah atau rusak, kami biasanya meminta Osama tuk memperbaikinya.

Tiba-tiba abu musthafa beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menuju flat.

“ ya baba, ruh fien?” (pak mau kemana?) kataku hampir sedikit berteriak. Karena abu musthafa sudah hampir jauh.

Aku jadi heran sendiri, beliau emang tidak banyak omong, Selalu diam. Tapi dibalik diamnya, beliau sangatlah ramah dengan siapapun. Tanpa bicara sedikitpun beliau hanya memberikan isyarat menyuruhku untuk balik lagi ke flat.

Masih dengan penuh tanda Tanya, aku hanya bisa mengikuti beliau dari belakang. Beliau sangat hafal flat kami. Sebenarnya kami sudah kenal lama dengan abu musthafa. Karena rumah beliau tepat didepan flat.

Ketika membukakan pintu, Dina yang mengirimkanku massage barusan terheran. Tapi tetap menyambut abu musthafa dengan senyum.

“Ahlan wa sahlan ya baba” sambut Dina.

Dina menutup pintu lalu memandangiku dengan penuh tanda Tanya. Tanpa dengan berbicarapun aku bisa membaca kalimat dari raut wajahnya. Mana Osama? Lalu abu musthafa?

Hmm,,, jangankan Dina, aku sendiripun belum mengerti apa maksud abu musthafa menyuruhku tuk balik lagi ke flat. Sementara aku belum sempat ke toko Osama.

Tanpa basa basi abu musthafa langsung menuju dapur, lalu mengotak-atik gas dan keran yang rusak. ternyata beliau berniat baik tuk memperbaiki gas dan keran itu. Dengan waktu yang singkat, keran pun pulih lagi. Setelah itu, barulah kami melihat senyum abu musthafa yang sumringah, begitu melihat air yang keluar lancar dari keran itu.


------------- ********** --------------


Selang berapa hari Abu musthafa datang lagi ke flat kami. Namun kali ini bukanlah masalah dengan perabotan rumah yang rusak, lalu hal apa yang mendatangkan beliau kemari?

Aku dan kawan-kawan serumah senang dengan kedatangan abu musthafa, Karena beliau sudah banyak membantu kami semua. yang tidak kami sangka sebelumnya. Beliau datang dengan membawa beras, macaroni, gula, dan bahan sembako lainnya.

Beliau hanya bertutur singkat “ kalian adalah anak-anakku, dan datang dari Indonesia ke sini tuk menuntut ilmu, ini semua lebih pantas aku berikan tuk kalian”

Setelah beliau meninggalkan flat, kami semua merasa heran, sedih, haru membaur jadi satu. bagaimana tidak, Kami semua tahu kalau selama ini abu musthafa selalu mendapatkan bantuan dari masyarakat sekitar. Karena beliau dianggap orang yang kurang mampu, hidup sebatang kara, pun tidak punya penghasilan apa-apa, bahkan kalau boleh dibilang mungkin beliau memang selayaknya tuk menerima bantuan dari orang-orang.
Lantas, bagaimana bisa Abu mushtafa menyerahkan bantuan itu kekami? Beliau beranggapan kalau kami ini adalah musafir juga menuntut ilmu fi sabilillah, yang lebih berhaq tuk menerima bantuan itu, dibandingkan dengan dirinya.


----------------*******------------------


Ada ide bagus dari teman-teman, kami ingin memberikan kejutan tuk abu musthafa, dengan memberikan makanan khas Indonesia yang kami masak sendiri. Kami hanya ingin melihat beliau senang.

Tepat setelah shalat maghrib, aku dan Dina pergi ke rumah Abu Musthafa, berniat hanya tuk antarkan makanan itu.

Baru kali ini aku singgah ke rumah beliau, sebelum-sebelumnya hanya melewati dari luar saja, dan itu juga tidak begitu terlihat jelas, karena tertutup oleh pagar flat sebelah yang lumayan tinggi.

Abu Musthafa tampak senang kami bisa singgah ke sana. Kebetulan sekali beliau sedang makan malam. Aku dan Dina membawakan pempek makanan khas Palembang, dan makanan ringan lainnya.

Aku fikir tidak ada yang dapat menyerupai rumah abu musthafa, dan aku yakin ini adalah rumah satu-satunya yang berbeda di Cairo. Rumah yang hanya sepetak saja. Aku tidak tahu pasti berapa ukuran rumah beliau. Namun yang jelas rumah itu tidak ada sekatnya. Hanya berisikan ranjang kecil, lalu di ujung ranjang itu ada sebuah meja yang di atasnya adalah TV (seperti di zaman kuno) hanya berwarna hitam putih, itupun terkadang buram dengan semut-semut yang berhamburan dilayarnya hingga gambarnya tidak tampak jelas. Lalu di samping ranjangnya ada sebuah tikar lusuh yang sekarang kami bertiga duduk di atasnya. Itulah rumah abu musthafa.

Melihat beliau makan, aku jadi teringat kakekku. Hanya saja nasib kakekku lebih beruntung karena masih ada anak-anaknya disampingnya. Sedangkan abu musthafa, hidup sebatangkara dalam mengarungi nasib dimasa tuanya.

Akhirnya kami pamit pulang. Setelah cukup banyak memperhatikan abu musthafa di Rumahnya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari itu semua. Ternyata di zaman sekarang masih ada orang seperti abu musthafa. Aku kira dengan kehidupan yang semakin serba modern ini, sudah tidak ada kesulitan dan kesengsaraan dalam hal apapun. Hanya saja aku masih kurang memperhatikan kehidupan di luar sana, dimana masih banyak orang-orang yang hidup dengan serba kekurangan.

Tanpa kusadari di perjalanan pulang tak kuasa mata ini menahan air mata. Aku hanya bisa berdoa agar beliau selalu diberikan kesehatan. Dan aku yakin, dengan penuh rasa syukur beliau, itulah yang membuat sosok abu musthafa bertahan dalam melewati kehidupan yang fana ini..

Senin, 05 September 2011

my family (Cairo)

Hanya sebuah keluarga sederhana yang tak sengaja terbina di Cairo ini, tak lain hanyalah kumpulan anak-anak yang masih bau kencur. Hmm.. dengan tekad tuk memulung pengetahuan di negeri orang.

Banyak pelajaran yang dapat aku ambil dari keluarga kecil ini. Dengan kepridian dan watak yang berbeda-beda, mungkin dengan itu semua aku bisa lebih belajar memahami sifat antara satu dengan yang lainnya.

kebetulan aku adalah orang tertua dikeluarga ini. Namun bukan berarti akulah yang paling dewasa diantara mereka semua. bagiku, mereka sama halnya dengan kawan sebayaku.

Sungguh, keseharian yang tak lepas dari tawa canda..^_^,. juga diskusi ringan yang terkadang tak pernah ada unsur kesengajaan itu, benar-benar merupakan sejarah yang tak mungkin terulang.

Bulan ramadhan di Mesir sangat-sangat membawa berkah, Khususnya tahun ini. Kami sekeluarga bahkan g’ pernah membeli bahan sembako. di Negeri kinanah ini, emang sudah jadi tradisi mereka memberikan bantuan tuk para musafir, khususnya para pencari ilmu fie sabilillah. Siapa boleh sangka keuangan rumah benar-benar utuh,,,,!!! Alhamdulilah.



Dihari nan fitri ini, uang itu yang telah membawa kami ke dunia fantasi..^_^,. Hmm.. “dream park” memang tempat yang telah membuat orang-orang tidak bisa mengatupkan mulut, bahkan semua orang histeris dengan teriakannya.

Hhhh… meskipun nggak bisa jalan bareng dg keluarga sendiri dirumah, namun hari ini, sudah lebih dari cukup bagiku tuk dapatkan kebahagian itu. Inilah keluargaku di Cairo…^_^,.

<< Nurul, Mila, Uyox, midhe, Hiday, Novi, Aul >>

Rabu, 31 Agustus 2011

“Berilmu mempunyai banyak kelebihan”


• kepala ilmu itu tawadhu,

• matanya adalah bebas dari dengki,

• telinganya adalah faham,

• lisannnya adalah kejujuran,

• hafalannya adalah pemeriksaan,

• hatinya adalah niat yang baik,

• akalnya adalah mengenal perkara-perkara yang wajib,

• tangannnya adalah kasih sayang dan sillaturahim,

• kakinya adalah mengunjungi ulama,

• tekadnya adalah kesehatan,

• hikmahnya adalah wara atau hati-hati,

• tempatnya adalah selamat,

• penuntunya adalah kesejahteraan,

• senjatanya adalah kelembutan bicara,

• pedangnya adalah keridhaan,

• busurnya adalah dialog,

• pasukannya adalah berdekatan dengan ulama,

• hartanya adalah adab dan amal,

• tabungannya adalah menjauhi dosa,

• bekalnya adalah kebaikan,

• petunjuknya adalah hidayah,

• teman dekatnya adalah bersahabat dengan orang shaleh yang menuntut ilmu.

"lebaran Q tahun ini"

Alhamdulilah...

Hari yang fitrah "idul fitri" kini telah tiba, dan semua umat muslim turut senang tentunya tuk merayakan hari agung ini, tak jauh juga Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir),setiap lebaran masisir semuanya berkumpul di Masjid al-Salam, tuk shalat ied berjama'ah dan makan bersama. itu semua memang sudah dipersiapkan oleh KBRI tuk masyarakat Indonesia yang ada di sini.

emang jauh berbeda dengan suasana lebaran di rumah sendiri. bisa berkumpul dengan sanak saudara, serta saling meminta maaf. akan tetapi, lebaran berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangan di masjid al-Salam emanglah lebih mengharukan. mungkin karena kita semua sama-sama jauh dari family, dan sama-sama merantau di negeri orang.

ya, suasana lebaran seperti itu yang sudah dua kali aku alami...^_^,.
tapi, untuk lebaran yang ketiga kalinya (sekarang). aku tidak lagi berada di tengah-tengah mereka. hmm... aku lebih memilih untuk sendiri.

ntah lah.. apa yang sekarang ada dalam fikiranku..
Aku langsung bergegas pergi. huuuufh, itupun belum tahu tujuan, hendak kemana kaki ini akan melangkah.



akhirnya, pilihanku jatuh pergi ke tahrir...
ya, mungkin dengan pemandangan sungai nil yang sangat menawan itu, setidaknya bisa membuat hati ini lebih sejuk dan damai....>>


Aku hanya bisa duduk terdiam seribu bahasa. pasrah tanpa kata hendak terucap...
bahkan air sungai yang menyapa pun, aku mengacuhkanya...







aku hanya tertarik pada kapal yang terus melintas di depanku. dimana orang-orang di dalamnya bersorak ramai, seperti kebiasaan orang-orang mesir, ketika mereka merasakan kebahagiaan mereka nggak sungkan-sungkan tuk menari. bahkan melonglong dengan suara khas mereka... hmmm jujur akupun tak bisa menirukanya, (padahal teman-temanku pernah beberapa kali mengajariku, tapi tetap saja aku tidak bisa menirukan suara mereka)

Kali ini, gelombang-gelombang kecil itu kembali menyapaku...
mereka memanggilku, seolah memang ada sesuatu yang hendak mereka sampaikan.
hmm... sebelum mereka bicarapun aku ternyata sudah melihatnya..^_^,.
mereka menghadirkan bayangan keluargaku.. sungguh menakjubkan. aku bisa melihat wajah bapak, ibu, mbak roh, mas sunu, mbak suk, mbak ria, juga mas aan.

sungguh kebahagian yang sangat..>> walaupun kini aku tidak bersama mereka. namun mereka semua kan tetap selalu ada bersamaku...^_^,.



Nil, 30 Agustus 2011











"Bersih hati, Suci jiwa"

malam ini adalah i'tikaf terakhir di bulan suci tahun ini insyallah...

masjid rob'ah (nama asli masjid itu "robiah al-adawiyah", tapi orang-orang mesir menyebutnya dengan masjid rob'ah), masjid yang selalu memberikanku ketenangan, dia juga selalu memberikanku motivasi yang membuat kehidupanku lebih bermakna. dan tuk kali ini, dialah satu-satunya saksi bisu, yang kini telah mengukir warna dalam diriku.

Sungguh moment penting yang begitu mahal untukku, detik-detik akhir yang harus aku lalui dibulan ramadhan ini. hanyalah dengan sedikit usaha tuk selalu taqarrub dengan-Mu wahai sang khaliq...

tat kala fajar menyongsong, entah apa yang ada dalam benakku. terlintas rasa sedih. begitu sangat sesak, tak ingin rasanya bulan penuh rahmat ini berakhir begitu saja.

kumandang azan subuh, begitu menyusup di dada. hendak kah waktu ini dapat kembali berputar? hhhhh... aku tak dapat menjawabnya. akan tetapi, aku hanya bisa berharap, bertemu dengan Ramadhan mendatang, itu adalah suatu anugrah terbasar bagiku.



rob'ah 29 agustus '11


Sabtu, 20 Agustus 2011

rindu Q

Heningnya malam, pekat, pun begitu hampa. Aku tak mendengar suara apapun kecuali detik jam yang terletak tepat dihadapanku. Karena saat ini aku sedang terduduk di meja belajarku. Ya, sedari tadi aku termenung, dan hanya memandangi fhoto yg ada dihadapanku.

Hhhh… helaan nafasku berhembus, dan hanya senyuman kecil yang bisa terukir di wajahku. ketika kumelihat wajah ibuku di sebuah bingkai fhoto yang kini kuraih. Tak luput segera keberikan pelukan hangat pada frame yang hanya bermotif polos itu, pertanda kalau saat ini ku sedang merindukannya.

Kini hayalanku buyar ntah kemana, teringat olehku bayangan ibu ketika aku pulang ketanah air lima bulan yang lalu. Dari kejauhan aku melihat ibu sudah menitikkan air mata begitu melihatku di bandara, Ibu langsung memelukku erat-erat, disertai kecupan sayang yang sudah dua tahun aku tidak merasakannya, serasa begitu damai aku dalam pelukannya.

Walau hanya sebulan setengah aku di rumah, tapi waktu yang sangat sedikit ini bagiku bagaikan perhiasan yang tidak ternilai lagi harganya. Hingga tak mampu lagi hendak kututurkan dengan kata-kata.

------ * * * * ------

Suatu malam , Aku serasa ada yang aneh pada ibu, ya ibu tiba-tiba datang menghampiriku, sembari kulihat di tangannya sebuah buku yang sekilas kubaca di sampul depannya “Kaidah membaca al-Quran dengan Tajwid”, hmm.. awalnya aku mengira ibu akan menanyakan sesuatu padaku. Tapi ternyata dugaanku salah. Justru ibu memintaku untuk diajarkan ilmu tajwid, dan cara membaca al-Quran yang baik dan benar.

Dengan senang hati aku dan ibu terus belajar tuk mengulas pembahasan ilmu tajwid. Aku bangga pada Ibu, walaupun usianya sudah tua, tapi semangat belajarnya melebihi aku yang masih mahasiswi. bahkan cucunya kini sudah enam, memang dikeluargaku hanya aku yang belum menikah, kelima kakakku sudah berkeluarga. Tentunya ayah dan ibuku sudah dipanggil kakek dan nenek sejak aku menginjak kelas lima SD.

Sambil membaca contoh ayat-ayat yang tertera di buku itu. Sesekali aku memandangi ibu, senyuman kecil yang dapat kuberikan walau tak terlihat olehnya. Tanpa kusadari, aku melihat bayangan di samping ibu, tepatnya bayangan masa kecilku. Terlihat jelas di mataku, sosok kecilku di pangkuan ibu dengan suara lantang menghafalkan surat-surat pendek, aku mengikuti apa yang dibaca oleh ibu.



Ya allah… bagaimana bisa kali ini dunia terbalik, saat ini aku tengah mengajarkan ibu, Yang mana dulu ibu mengajarkanku bagaimana cara membaca al-Quran, dan menghafalkan doa-doa. Aku bengong sejenak, ayat yang kubacapun akhirnya terputus. Ibu hanya heran melihatku yang tiba-tiba berhenti membaca. Tapi kulanjutkan kembali membacanya, tuk menyembunyikan rasa haruku pada ibu. Rasanya ingin menitikkan air mata jika mengingat bagaimana perjuangan ibu dimasa kecilku dulu.


---------- * * * * -----------


Tepat pukul 02:00 tanpa sengaja aku terbangun dari tidurku. Padahal seperti biasa aku memasang alarm pukul 03:00 tuk shalat tahajud. Tapi entahlah kali ini, rasanya ingin keluar dari kamarku. Aku berniat tuk kedapur tuk minum, karena rasa dahaga yang tiba-tiba menyerbuku. Mungkin ini juga kesempatanku tuk sekalian ambil air wudhu’.

Begitu melintasi kamar ibu. Aku mendengarkan lantunan kalam ilahi yang di baca oleh ibu. Suara yang terbata-bata pun agak serak, Mungkin karena ibu juga sudah tua. Tapi sungguh, ketika ku mendengarkan suara itu, terasa hati begitu sejuk, tapi juga ada perasaan sedih, pilu, haru membaur jadi satu. Entah apa yang tiba-tiba datang menyayat hati. Pelupuk matapun bak riak sungai yang mengalir dengan derasnya.


-------- * * * * --------


Tanpa terasa, kini air mataku membasahi frame fhoto yang dari tadi berada dalam pelukanku. Rasa rinduku pada ibu makin tertanam begitu dalam, hingga akarpun tak mungkin lagi tuk menggapainya.

Bu… Izinkan anakmu ini, tuk beberapa waktu lagi tuk tatap di Negeri seribu menara ini, demi memulung sebuah ilmu. Walau jarak yang memisahkanku darimu, tapi batinku kan selalu rapat disisimu.

Wahai malam.. sampaikan salamku tuk ibu. Katakan padanya kalau kini aku sangat merindukannya. Rindu akan belai kasihnya. Pun mengharap, ku selalu berada di pelukannya.

Wahai Sang Khaliq.. kumohon lindungilah ia. Jagakanlah agar senyuman tetap selalu terukir diwajahnya. Jangan biarkan marabahaya dan penyakit menghampirinya.

I LOVE YOU my mom…..>>>

Madrasah, 20 agustus 2011