Minggu, 11 Desember 2011

"Senyum adik-adik Q (fie sabilillah)"

( Lara & Nuro )

( nuro )

( Lara )

( 'Ali )

( Fatma & Muhammad )

( Muhammad )

( Youmn & Fathimah )


( Youmn & Fathimah )


( Muhammad )


( Rhana )

( Yusuf & Abdurrahman )

( Abdurrahman )

( Yusuf )











Rabu, 07 Desember 2011

Ibnu Rusyd

“Sosok rasionalis dan bukanlah seorang Free Thinker…” (Philip K. Hitti)

Prolog

Kehadirannya dalam sejarah intelektualisme islam signifikan baik bagi usaha mengurai benang kusut pemikiran maupun dalam menghidupkan kembali filsafat yang telah memasuki titik nadir. Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusyd dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195 M.

Ibnu Rusyd banyak menulis komentar dan penjelasan terhadap karangan para filosof yunani khususnya Aristoteles baik dalam komentar singkat (al-jami’), sederhana (talkhis), ataupun komentar luas (tafsir), sehingga Ibnu Rusyd juga populer dengan sebutan ”al-Syarih al-Akbar / the great commentator”.

Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi.

Filosof muslim cordova ini dianggap sebagai pensyarah pertama yang paling berpengaruh di dataran Eropa. Banyak tokoh Eropa melakukan kajian terhadap karya-karya beliau dalam beberapa bahasa, seperti bahasa latin, dan bahasa Ibrani. Dimana pemikiran dan karya-karya Ibnu Rusyd ini sampai ke dunia Barat melalui Ernest Renan.
Bagaimana Ibnu Rusyd menguraikan lebih lanjut teori rasionalnya, inilah yang akan menjadi pokok masalah dalam tulisan berikut.

A. Logika ( pemikiran Ibnu Rusyd)

Dalam permasalahan logika satuan proposisi terkecil yakni “kata”. Kata menjadi penting karena merupakan unsur dalam membentuk pemikiran. Pada praktiknya kata dapat dilihat berdasarkan beberapa pengertian yakni positif (penegasan adanya sesuatu), negatif (tidak adanya sesuatu), universal (mengikat keseluruhan), partikular (mengikat keseluruhan tapi tak banyak), singular (mengikat sedikit/terbatas), konkret (menunjuk sebuah benda), abstrak (menunjuk sifat, keadaan, kegiatan yang terlepas dari objek tertentu), mutlak (dapat difahami sendiri tanpa hubungan dengan benda lain), relatif (dapat difahami sendiri jika ada hubungan dengan benda lain), bermakna/tak bermakna, dsb.

Logika sebagai teori penyimpulan, berlandaskan pada suatu konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata atau istilah, dan dapat diungkapkan dalam bentuk himpunan sehingga setiap konsep mempunyai himpunan, mempunyai keluasan. Dengan dasar himpunan karena semua unsur penalaran dalam logika pembuktiannya menggunakan diagram himpunan, dan ini merupakan pembuktian secara formal jika diungkapkan dengan diagram himpunan sah dan tepat karena sah dan tepat pula penalaran tersebut.

Pengertian ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa seseorang dengan sendirinya mampu menalar atau berpikir secara tepat hanya jika ia mempelajari logika. Namun , di lain pihak, harus juga diakui bahwa orang yang telah mempelajari logika (sudah memiliki pengetahuan mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir), mempunyai kemungkinan lebih besar untuk berpikir secara tepat ketimbang orang yang sama sekali tidak pernah berkenalan dengan prinsip-prinsip dasar yang melandasi setiap kegiatan penalaran.

Dengan ini hendak dikatakan bahwa suatu studi yang tepat tentang logika tidak hanya memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir tepat saja, melainkan juga membuat orang yang bersangkutan mampu berpikir sendiri secara tepat dan kemudian mampu untuk membedakan penalaran yang tepat dari penalaran yang tidak tepat.

Ibnu Rusyd berargumentasi bahwa di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal untuk memahami segala yang wujud. Karena akal ini tidak lain daripada proses berfikir yang menggunakan metode logika analogi (qiyas al-‘aqli), maka metode yang terbaik menurut sang poinir rasionalis ini adalah metode demonstrasi (qiyas al-burhani). Sama seperti qiyas dalam ilmu Fiqh (qiyas al-fiqhi), yang digunakan untuk menyimpulkan ketentuan hukum. metode demonstrasi (qiyas al-burhan) digunakan untuk mamahami segala yang wujud (al-maujudat). Dari pemahaman tersebut merupakan asas bagi kesimpulan Ibn Rushd yang menyatakan bahwa para filosof memiliki otoritas untuk menta’wilkan al-Quran.

Berasaskan pada kemampuan akal manusia, Ibnu Rusyd membagi kedalam tiga kelompok: Pertama “kelompok ahli awam”, metode ilmu pngetahuan yang sesuai untuk ahli awam ini adalah khathabi (retoris), dengan begitu al-Quran tidak dapat di ta’wilkan, karena mereka hanya orang-orang yang memahami al-Quran secara tertulis. Kedua, “kelompok pendebat”, untuk para pengguna metode ilmu pengetahuan secara dialetik ini ta’wil juga sulit diterapkan. dan ketiga adalah “kelompok ahli hikmah (ahli fikir)”, merekalah orang-orang yang menggunakan metode burhani (demonstratif), sementara ta’wil secara tertulis dalam bentuk karya, hanya bisa diperuntukkan bagi kaum ahli hikmah ini.


B. Syari’ah dzahir dan batin

wahyu dibagi kedalam tiga bentuk makna yang terkandung didalamnya yaitu :

• Teks yang maknanya dapat difahami dengan tiga metode yang berbeda (metode retorik, dialektik dan demonstratif)

• Teks yang maknanya hanya dapat diketahui dengan metode demonstrasi. Makna yang terkandung dalam teks ini terdiri dari:
a) makna dzahir, yaitu teks yang mengandung simbol-simbol (amtsal) yang dibuat untuk menerangkan idea-idea yang dimaksud.
b) makna batin, yaitu teks yang mengandungi idea-idea itu sendiri dan hanya dapat difahami oleh yang disebut ahli al-burhan.

• Teks yang bersifat ambiguos antara dzahir dan batin. Klassifikasi teks wahyu ini juga merujuk kepada kemungkinan untuk dapat difahami dengan akal.

Maka itu ia memahami istilah “ta’wil” sebagai penafsiran dan penjelasan ucapan, ia tetap menekankan pada kesesuaiannya dengan makna dzahir dari lafadz ucapan itu. Dalam pandangannya perkataan dzahir yang dapat difahami dari lafadz bermacam-macam bentuknya, ada yang menurut konteksnya dan ada pula yang difahami sesuai dengan ikatan-ikatan yang ada didalamnya.


Untuk itu, Ibnu Rusyd menetapkan tiga syarat, agar ta’wil itu dapat diterima:

1) menjaga agar lafadz itu sesuai dengan makna yang terdapat dalam Bahasa Arab dan maksud al-syari’ serta tidak memahami dengan makna lain.
2) menjaga agar maknanya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pembicara dalam konteks lafaznya.
3) memperhatikan “mustawa al-ma’rifi” (tingkatan nalar dan pengetahuan) kepada siapa “ta’wil” itu dihadapkan.

Oleh itu kita tidak boleh menta’wilkan lafadz-lafadz al-Qur’an dengan sesuka hati tanpa mengkaji maksud yang sesungguhnya sesuai dengan konteks masing-masing lafadz.


C.Penciptaan alam

ayat-ayat Allah terbagi atas dua macam: yaitu ayat-ayat berupa Kitab Suci (qauliyah) dan yang Kedua adalah ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Allah (kauniyah). Menurut filsuf Muslim Ibn Rusyd, alam semesta justru merupakan ayat-ayat Allah yang pertama. Dikatakan demikian, karena sebelum Allah SWT menurunkan Kitab Taurat, Injil, dan al-Quran, Allah telah menciptakan alam jagat raya ini. Karena alam adalah ayat, maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat, maka sejengkal alam juga ayat. Sebagai ayat, alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. Karena itu, penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya.

Sebagian pengkaji filsafat menilai bahwa Ibnu Rusyd memiliki dua pendapat tentang asal-usul alam. Kepada masyarakat awam, Ibnu Rusyd tidak berpendapat tentang Qadimnya alam, hanya sekedar mengemukakan teorinya tentang peciptaan alam, sedangkan dalm beberapa kitabnya untuk kajian filosofis, ia dengan tegas menguraikan argumentasi tentang keqidaman alam.

Walaupun demukian, pada hakikatnya Ibnu Rusyd melakukannya sekedar untuk menjaga keutuhan teorinya pada setiapkarya-karyanya. Yang dimaksud dengan Qadimya alam yaitu qadim hanya dari segi zaman, bukan dalam pengertian tidak memiliki ‘illah atau tidak diciptakan oleh Tuhan, dalam artian ia menolak pendapat bahwa materi adalah ‘illah bagi dirinya sendiri, sehingga tidak ada bedanya dengan dzat Tuhan.

Dalam penciptaan alam, sosok yang banyak dipengaruhi oleh madzhab Aristoteles ini menganut teori “Kausalitas” (hukum sebab akibat), dalam memahami alam harus dengan dalil-dalil tertentu agar dapat sampai pada hakikat dan eksistensi alam.

Para teolog dan Imam Ghazali dalam karya monumentalnya (Tahfut al-Falasifah), menyatakan bahwa alam hadits dan mempercayai bahwa Tuhan adalah pencipta sehingga Ia mengadakan sesuatu dari “tiada” (al-‘adam). Jika alam tidak bermula, maka alam tidak diciptakan sehingga Tuhan bukanlah maha pencipta.

Ibnu Rusyd dan para Filosof Islam mengatakan bahwa alam adalah qodim, namun dengan kata lain diciptakan dari yg ada dahulu, yang mungkin terjadi adalah “ada” (maujud) yang awal kemudian berubah menjadi “ada” (maujud) dalam bentuk lain. Hal ini ia perkuat dengan mengusung dalil dalam al-Quran:

Surat Hud : ayat 7 ; dikatakan secara garis besar, bahwa sebelum ada wujud langit dan bumi telah ada wujud lain, yaitu wujud air, yang diatasnya terdapat tahta kekuasaan Tuhan, ditegaskan lagi bahwa langit dan bumi diciptakan setelah air, tahta, dan masa.

Surat Fushilat : ayat 11 ; dikatakan bahwa Tuhan menciptakan 2 bumi dalam 2 masa menghiasi bumi dengan gunung dan diisi dengan berbagai macam makanan, kemudian Tuhan naik ke langit, yang masih merupakan uap, sehingga dita’wilkan langit tercipta dari uap.

Surat al-Anbiya’ : ayat 30 ; dikatakn bahwa bumi dan langit pada mulanya adalah satu unsur yang sama, kemudian dipecah menjadi dua benda yang berlainan.

Dari keterangan diatas, maka tampak bahwa kejadian alam terjadi dengan adanya “sebab akibat” (hokum kausalitas), namun al-Ghazali mengingkari hal ini.

Untuk menengahi bahwa alam itu qodim, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa sebenarnya antara Filosof dan ahli Syari’ah telah sepakat bahwa ada tiga macam “wujud” (yang berkaitan dengan hal ini) :

Wujud baru (karena sebab sesuatu) Dari sesuatu yang lain, dan kerena sesuatu. Yakni zat pembuat dari benda, ini adalah benda yang kejadiannya bisa terlihat oleh panca indra, seperti terjadinya air, udara, bumi, hewan, tumbuh-tumbuhan, dsb.

Wujud Qodim (tanpa sebab sesuatu) yaitu wujud yang bukan dari sesuatu, tidak karena sesuatu, dan tidak didahului oleh zaman. Wujud ini tidak dapat diketahui dengan bukti-bukti fikiran, seperti “Tuhan”

Wujud Antara (Wujud diantara kedua wujud ini) wujud yang bukan dari sesuatu, dan tidak didahului oleh zaman, tetapi wujud karena sesuatu (yaitu zat pembuat), wujud itu adalah “alam dan keseluruhan


D. Politik

Membicarakan Ibnu Rusyd sebagai seorang failosuf bukanlah sesuatu yang asing, baik oleh umat Islam atau non Islam terutama di dunia Barat, karena ia terkenal dengan pemikiran filsafatnya, sehingga muncul suatu ungkapan “Aristoteles dikembalikan tanpa basa basi ke Barat yang merupakan dunianya bersama Averroes muridnya yang besar”

Lain halnya membicarakan Ibnu Rusyd sebagai seorang politik tidak sepopuler dia sebagai seorang failosuf. Sejarah tidak bersikap adil terhadap orang besar seperti Ibnu Rusyd mengenai jasanya dibidang politik. Kebesaran di lapangan falsafat dibesar-besarkan di zaman pertengahan, baik hasil karyanya yang mengagungkan, dan kebesarannya di bidang kedokteran, Astronomi dan lapangan ilmu lainnya.

Tetapi di lapangan “politik” tidak pernah disinggung kebesaran Ibnu Rusyd. Bukan tidak ada buku-buku hasil karyanya di dalam politik, bukan tidak pernah dia bekerja dilapangan pemerintahan. Dan tidak kurang pendapat yang dilahirkannya mempunyai nilai yang tinggi. Anehnya sejarah tidak memasukkan Ibnu Rusyd sebagai seorang “politikus” yang ulung, yang sejajar kedudukannya dengan politik Islam lainnya.

Kendatipun demikian, ada beberapa alasan untuk menelusuri pemikiran “politik” Ibnu Rusyd. pertama, pemerintahan Islam di tempat kelahirannya (Andalusia) yang berjalan lebih kurang 8 abad yang mengakui kejayaannya, tidak mungkin kosong sama sekali dari seorang politikus. Kedua, aktivitas Ibnu Rusyd sendiri yang memberi komentar-komentar terhadap buku-buku dari failosuf-failosuf Yunani (Aristoteles dan Plato), tidak masuk akal, sarjana seperti Ibnu Rusyd tidak mempunyai apa-apa dalam Ilmu Politik. Ketiga, Ibnu Rusyd termasuk salah seorang Failosuf muslim tidak mungkin meninggalkan satu bagian dari falsafat yaitu “Ilmu Politik”.

Bukti beliau pernah berpolitik :Ibnu Rusyd menjabat pekerjaan hakim dalam pemerintahan sampai tingkat yang tinggi yaitu sebagai Ketua Mahkamah Agung (Qadhi all Jama’ah), jabatan hakim dipangkunya selama 16 tahun (565 sampai 521H).

Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai bapa sekuler di dataran Barat ini membantah terhadap pemerintahan yang diktator pada masanya: sebuah hukum yang dikatakan Ibn Rusyd dengan istilah yang diciptakannya sendiri dengan istilah Wahdaniyyah Al-Tasalluth (kekuasaan yang egois). Sebagaimana telah ia tegaskan bahwa pemimpin yang zalim “alladzi yaqumu bi al-hukmi fi sabili nafsihi, la fi sabil ummah”


Epilog

Filosof muslim penganut madzhab maliki dalam bidang fikih ini telah menorehkan warna filsafat yang lebih spesifik. Beliau sangat menyayangkan terjadinya perpecahan dikalangan kaum Muslimin, menjadi golongan-golongan seperti Mu’tazilah, khawarij, Syi’ah dll. Masing-masing mengaku telah mencapai kebenaran, sedang lainnya sesat. Hal ini tidak lain dikarenakan salah memahami maksud Syari’at.

Dengan pemikiran-pemikirannya dan pendapat-pendapatnya ia tidak bermaksud menimbulkan golongan baru, tetapi ia hendak mengemukakan argumentasi-argumentasi kepercayaan-keprcayaan agama yang tepat diterima oleh setiap orang. Tujuan filosof besar ini tak lain hanya ingin mengharmonikan antara agama dan akal, dan sangat mengajarkan pada kita tuk saling menghargai dan ramah tamah.

Dari perspektif penulis, ada suatu penilaian khusus dengan menempatkan filsafat Ibnu Rusyd secara lebih proporsional. Dalam pandangan ini, Ibnu Rusyd bukan seorang materialis murni, juga bukan seorang idealis religius sejati, namun lebih sesuai sebagai filosof muslim yang berusaha merambah jalan tengah diantara dua belantara pemikiran.

Sejatinya Ibnu Rusyd hanya ingin menghidupkan kembali cahaya filsafat yang pada saat itu semakin meredup, bahkan umat islam sampai sekarangpun masih dapat menikmati panorama filsafat itu, meskipun tidak seindah di barat (ini adalah bukti perjuangannya).

Akhir kalam, apapun pandangan filosofis Ibnu Rusyd sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa pemikiranya adalah paling benar (karena itu hanya merupakan sebuah ijtihad) Ijtihad seorang manusia bisa saja benar dan bisa saja salah, hakikat kebenaran hanya Allah Swt yang mengetahui dan memilikinya. wallahu a’lam bishawab








Daftar Pustaka

1. Dr. Manna Ahmad Abu Zaid, Musu’ah al-Falsafah al-Islamiyah. Hal- 68
2. Ibnu Rusyd, al-Dhorury fi ushul al-fiqh, Darul maghrib al-Islamy bairut, hal- 64 65.
3. Dr. Muhammad ‘Abid al-Jabiri, makalah al-Madrasah al-Falsafiyah fi al-Maghrib wa al-Andalus.
4. Abu Hamid Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Cairo
5. Abu al-Walid Muhammad ibnu Rusyd, Tahafut-Tahafut, Cairo
6. Averroes and Averroisme, Ernest Renan. Yang diterjemahkan ‘Adil Za’iyyah dalam bukunya “Ibnu Rusyd wa rusydiyah” maktabah al-tsaqofah al-Diniyyah, Cairo.

Kamis, 24 November 2011

"unik n' menarik"

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
9996669696966696969699999966696999666966696669666966696999
9996969696969996969699999969996999696969996969696969696999
9996969696969996969699999969996669696966696969696969696669
9996969696969996969699969969996969666999696669696966696969
9996969696969996969699999969996969696999696969696969696969
9996969666969996669666999966696969696966696969696969696969
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

1. Birukan angka diatas, atau di blok sampai semuanya jadi membiru angakanya,
2. Tekan CTRL+F
3. lalu tekan 9 atau angka 6, terserah,
4. dan Tekan CTRL+enter, tapi biasanya langsung da perubahan yang signifikan tanpa menekan tombol enter,,,

coba dulu pasti kagum liat nya...( Buktikan sendiri )
-------

ada yang bisa jelasin fenomena ini?

Selasa, 15 November 2011

benarkah "DIA"...???

“Astaghfirullahal’adzim….” Dengungku, sembari mengusapkan muka yang kenyataanya tidak berkeringat, karena musim dingin yang sedang menyelimuti malam ini.

Aku yang kini bangun dan langsung terduduk termenung ditempat, dan hanya dapat membisu tanpa kata. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ada dalam mimpiku.

alarm handphoneku pun baru berbunyi, alunan shalawat hadad alwi “Llaika” Ya Rabbi Ya ‘Alima al-hal… membuat semakin hening saja, Senyap malam yang sangat bersahabat ini mengundangku bangkit dari tempat tidur.

Langsung ku singkirkan selimut yang sedari tadi menemani tidurku, lalu berjalan menelusuri ruang tengah, kuraih gelas kaca diatas meja dan menuangkan air bening, setidaknya dengan seteguk air bisa lebih menenangkan fikiranku sekarang.

“Hhhhh.. sungguh mimpi yang cukup membuatku tertegun sesaat..”

Tidak banyak buang-buang waktu, kaki ini langsung beranjak kekamar mandi tuk segera mengambil air wudhu.


------ ****** ------


Dalam mimpi itu, aku punya ayah angkat di Mesir ini, dan tinggal dengan beliau. Ketika aku pulang kerumah, tak diduga-duga. Sosok bani Adam yang datang dalam mimpiku, dengan memakai kemaja biru dongker bergaris warna lain, yang sepertinya aku pernah kenal dengan baju itu, tapi entah laah,, mimpi memang terkadang samar-samar.

Ketika ku membuka pintu, terlihat jelas pria itu sedang mencium tangan ayah angkatku. Lalu pergi…

Aku yang ketika itu diam mematung dibalik pintu dan tidak mengerti apa-apa, lalu menghampiri sang ayah.

“Ada apa gerangan..? kenapa dia datang kemari? “ tanyaku.

Ayah tidak menjawab apa-apa, beliau hanya bisa mengangkat kedua tangannya, lalu menggelengkan kepala pertanda bahwa beliau juga tidak mengerti.

Aku segera berjalan cepat menyusul pria itu yang sudah keluar dari rumah, dengan bermaksud menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun aku hanya bisa melihatnya dari dalam pintu rumah.

Pria itu sama sekali tidak meresponku, hanya menghaturkan sedikit senyum, namun terlihat sembab dimatanya.

“Teka-teki apa ini ?” dahiku yang mulai mengerut, yang memang tambah membuat bingung. Namun aku tak berani menayakan kembali pada ayah angkatku. Langsung saja aku masuk kamar, dan istirahat sejenak.

Tak berapa lama, terdengar panggilan ayah angkatku dari luar kamar. Aku menghampirinya, dengan sedikit rasa takut juga. Ntah ada angin apa yang tiba-tiba merubah suasana sekarang menjadi beda dari biasanya.

“iya yah…” jawabku agak gugup.

Sepertinya memang ada hal yang cukup serius yang ayah ingin sampaikan, tapi aku sendiripun tidak tahu,,?

“Pria yang tadi datang kerumah…” Ayah mencoba tuk mengawali pembicaraan.

“Tidak tahu tiba-tiba dia datang, lalu ingin bicara langsung dengan ayah”.

Aku yang masih membisu tidak menyahut lagi bertanya apa-apa. Hanya mendengarkan kalimat demi kalimat yang diomongkan ayah.

“Tapi ayah masih ingat betul kata-kata yang dia sampaikan”

“Pak, tanpa sengaja saya mendengarkan ayat-ayat ilahi yang baru saja dibaca oleh anak bapak. Katika itu hati saya berdegup, dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya bisa menitikkan air mata haru. Dan sekarang saya datang memohon ridho dan izin dari bapak, mungkinkah untuk dia hadir sebagai teman hidup saya..??”

Semua persendian tulangku rasanya lemah, ketika mendengarkan ungkapan itu.

“ayah hanya bisa berpesan, lihatlah ketaatan dan akhlaqnya”



------ ***** ------



Belum selesai dari percakapan itu aku sudah langsung terbangun, dan entah penyebab apa yang tiba-tiba mimpi itu hadir.

Dengan membasahi anggota tubuh dengan air wudhu, lalu sholat tuk bermunajat pada-Mu wahai sang Pemilik segala sesuatu. Dalam Do’aku :



“ Ya Rabbi Engkau lah yang Maha Pengasih pun Maha penyayang bagi hamba-hambaMu, Aku pasrahkan semua ini pada-Mu. Dan Engkaulah Sang Pemilik hati ini, Kepada siapa hati ini akan kau berikan? aku hanya bisa mengikuti arus kehidupan yang sudah Engkau tuliskan untuk-Ku.”

Isak tangis yang sudah tak dapat lagi aku membendungnya, hanya seperti inilah yang dapat aku lakukan. Mengadu pada-Nya, dan tak berdaya tuk mengambil sikap.

Kumandang Azan subuh, kini memecahkan heningnya fajar. Begitu juga layaknya hati yang kini galau dengan hadirnya mimpi itu…


Ya rabb… apa maksud dari semua ini…???

Minggu, 06 November 2011

idul adha 2011

Allahu akbar...
Allahu akbar...
Allahu akbar, la Ilaha illallahu Allahu akbar.
Allahu akbar, wa Lillahi ilhamd.

Kumandang takbir yang kian menggema dijagat raya, tentunya seluruh umat Islam turut bersuka cita dalam menyambut hari besar Idul adha tahun ini.
Terlebih lagi aku, walaupun sekarang masih berfikir keras dengan masalah flat baruku yang sampai saat ini belum bisa aku tempati, namun dengan datangnya hari agung ini, seakan menDELET semua kepenatan dalam diri.

hmm,,, tapi aku merasakan kebahagiaan yang sangat dihari raya ini, dengan sholat ied berjamaah di suq sayarat, tempat yang paling luas di H-10 Nasr city (walaupun dengan berangkat buru-buru hehehe) tapi alhmdulilah Qt nggak terlambat.




Dan juga berkumpul dengan kawan-kawan di masjid al-Salam. Bersilaturrahim sesama warga indonesia disini, memanglah hal yang sangat mahal nilainya.
tidak akan terjadi kecuali pada hari-hari besar saja.

moment besar seperti ini, nggak akan aku lalui dengan sia-sia, aku hanya bisa berusaha tuk menorehkan cerita dan sejarah baik dalam tiap lembaran hidupku.

Aku hanya berharap setidaknya dihari idul adha kali ini, bisa lebih baik dari hari raya idul fitri kemarin, huuuufh :-(

yap, memang betul...
hakikatnya yang membuat hati senang atau sedih adalah diri kita sndiri.
bagaimana kita dalam mengarahkan hati hehehe... ^_^,.

Jumat, 04 November 2011

"Berakhirnya Sebuah Kenangan"

empat hari yang lalu....
ya, tepatnya akhir bulan oktober, aku dan kawan-kawan serumah terpaksa meninggalkan atap dimana kami telah berteduh, tempat tuk menuaikan ketenangan hidup di madrasah. dberpisah karena faktor banyak yang ingin masuk asrama,tapi aku sendiri hanya bisa memutuskan tuk pindah flat ke tabbah.

setahun yang lalu...
rasanya baru mengenal mereka, adik-adikku dengan wajah polos, pun penuh dengan semangat dan niat baru tuk memulai jihad fi tholabil ilmi mencari ilmu di Negeri kinanah ini. tanpa harus dipungkiri, ibarat kertas putih yang murni belum tersentuh apa-apa. tergantung lingkungan dan tekad yang akan membawa mereka ke kehidupan mendatang.

Setahun bersama mereka ternyata adalah waktu yang sangat sangat singkat.
dan tak terasa waktu-waktu itu berakhir sudah...
tentunya mustahil tuk bisa kembali.

UYOX, adalah adikku yang punya potensi tinggi menurutku, leadershipnya patut aku acungi jempol, dia adalah orang penggerak di angkatannya. hmm.. rasanya memang dia bisa merangkaul kawan-kawan sebanyanya.

HIDAY, satu-satunya orang yang mendapat predikat mumtaz di rumah ^_^,. adalah adikku yang alhamdulilah dikaruniai akal cerdas, rajin pula...!!! ckckckck
jadi kangen tahsin al-qur'an dan talaqi bareng ama hiday..

MIDEH, si Jago buat puisi pun suka berdiskusi ini, adalah adikku yang punya kegemaran sejoly denganku yaitu "belajar di masjid rob'ah" hehehee ^_^,. soale kawan-kawan lebih suka belajar ditempat yang lain.

NOVI,siapa yang g' kenal dengan adikku yang satu ini. yap adik dari presiden PPMI tahun sekarang. uppz bukan maksud hati tuk ria' (tapi g' papa sedikit hehehe). yang aku g' habis fikir, kreatifnya itu lhooo....!!!!

AUL, hohohoo... kalo untuk adikku yg terakhir ini jangan di tanya..!! soale kalo di tanya satu, ntar jawabannya bisa jadi artikel hihihiii bisa ajha. Aul memang hobi baca2 karya ilmiyah, ples suka debat..!!! mantab'z

MILA, my best partner.. ples orang yang peling mengerti akan diriku. dia memang orang yang sabar. ya rabb syukurku pada-Mu karena pernah disatukan dengan teman sebaik Mila.

WILL MISS U ALL....^_^,.

Selasa, 25 Oktober 2011

"etos kerja seseorang"

Hari ini jadwal kuliahku memang sedang libur, kebetulan aku dan mila udah sepakat kita bakal bersih-bersih rumah hari ini. hmm.. tandhiful 'am itu emang sungguh indaah..^_^,.
yang namanya kerja bareng emang garing rasanya kalau saling diam, tanpa di komandopun pastinya bakal jalan ajha tuh alur cerita hehehe..^^ awalnya aku memulai cerita masalah bersih-bersih.

"Eh mil tau g'? aku jadi ingat pesan Hasna, kawanku waktu kelas 5 di Gontor dulu". tiba-tiba ajha aku nyeletuk ungkapan itu.

"Dia bilang, Rul kalau kamu ingin tahu etos kerja seseorang "LIHAT DIA KETIKA BERSIH-BERSIH". Ucapku singkat.

"Hah... ko' bisa?" Mila hanya bisa mengerutkan dahi.

Dulu waktu kelas 5, aku dan Hasna memang sama-sama ketua rayon, cuma kita berdua beda rayon, aku di rayon indonesia 4, sedangkan Hasna di rayon Bahrain. kita berdua emang suka curhat masalah anggota, alias adek-adek kelas yang kadang sedikit susah di atur(hehehe curhat niyee..??)

Dari omongan Hasna itu, aku jadi mengerti, dan sedikit memahami karakter masing-masing anak. terkadang aku perhatikan ada anak ketika selesai bersih-bersih perlatan dibiarkan begitu saja. ada lagi yang membersihkan luarnya saja kalau udah dilihat sekilas bersih ya sudah wasalam. bahkan ada yang nggak mau bersih-bersih sama sekali malah kabur itu banyak. tapi juga ada anak yang membersihkan dengan maksimal.

Menurutku dari situ kita bisa melihat, dan sungguh jelas tergambarkan disana, orang yang maksimal dalam bersih-bersih, insyallah dialah orang yang punya etos kerja bagus. Dan memang nyata terbukti.

setelah banyak kuperhatikan, orang-orang yang etos kerjanya bagus sudah tentu akan dipercaya, dan mendapatkan amanah besar. itu sudah hukum hakiki.

Bahkan sampai sekarangpun, aku masih memegang pedoman itu. hmm.. aku melihat si A, melihat si B, dan si C. dari cara dia bersih-bersih sudah jelas bisa memberikan nilai. oowh si A seperi ini, si B kaya gini, dan Si C gini-gini (hmm.. bisa aja).
betul g'??


isenk-isenk jam 00:27 CLT.

Senin, 24 Oktober 2011

"ramsees station in memory"

cuaca kairo kini makin tak menentu, kadang panas dan kadang dingin, aku yang hampir tiga tahun hidup di sinipun masih sering saja tertipu akan hal ini, emang cuaca sekarang agak susah ditebak.

yap orang bilang musim musim seperti ini adalah masanya pancaroba (biasanya pergantian musim banyak wabah penyakit).ntah lah.. memang cukup aneh tuk beradaptasi dengan cuaca yang sedikit berbeda dengan tanah air kelahiranku.

waktu sudah menunjukkan pukul 15:30 CLT. aku memang sudah janji dengan samah, syaima', dan shara tuk ketemu di ramsees (salah satu nama stasiun kereta api bawah tanah di kairo. Malam ini kami berniat menghadiri acara walimatul ursy pernikahannya hebah di daerah muasasah. Mereka semua teman baikku di kampus, kebetulan karena kami sefakultas ushuluddin.

ba'da shalat ashar aku bergegas kaluar dari flat kediamanku. emang suhu belum terasa dingin karena matahari masih menunjukkan rona wajahnya. tas kecil favoritku cukup kuselempangkan dengan mudah. sementara jaket cukup aku lingkarkan di tangan, karena merasa masih enggan tuk memakainya.


--------- ****** ---------


tramco arah ramsees lumayan mudah dijangkau karena cukup banyak. kali ini perjalanku benar-benar berbeda dari biasanya. ntahlah suasana kali ini sangat mendukung dan aku rasa perjalanan sore emang menyenangkan. walaupun sebenarnya aku agak pusing sedikit akibat terserang flu karena pergantian musim. bagiku, penyakit kalau dibawa sakit akan terasa sakit. tapi kalau di bawa happy insyallah terasa enjoy ajha tuh.

tuk mengawali adventure, sang supir membunyikan musik, biasanya orang-orang mesir memang cuma mendengarkan saja, namun tuk kali ini benar-benar diluar dugaanku, semua orang yang ada di dalam tramco ini berekspresi. wanita muda disampingku cukup menggeleng-gelengkan kepala kekanan kiri mengikuti irama musik. sementara anak laki-laki mungkin sebaya kelas 5 SD, mereka penuh variasi dengan mengangkat tangan mereka dan entah itu gaya versi apa akupun kurang faham. yang lebih heran lagi ibu-ibu yang duduk didepanku mereka dengan semangat tepuk tangan, bahkan nggak cuma sekali dua kali melolong suara khas mesir kalau sedang bahagia.

aku yang ketika itu tepat disamping jendela, awalnya merasa aneh dengan suasana seperti ini. bahkan aku cuma bisa diam dan lebih fokus memandang ke arah luar jendela sembari memperhatikan jalan. mungkin sebenarnya mereka merasa aneh dengan keberadaanku sebagai orang asing disini. namun begitu siwanita muda menyenggolkan bahunya kearahku, aku sempat tidak sengaja memberi perhatian pada orang-orang didalam tramco, dan cuma bisa senyum kecil.

"hmm... ternyata sangat menyenangkan bersama mereka" gumamku
dan aku hanya bisa tertawa geli ketika kudapati tanpa ada unsur sengaja salah satu jari telunjuk mengikuti irama musik di atas pahaku. hahaha ada-ada saja. perjalanan setengah jam pun tak terasa.


--------****-----------


shohada (ramsees) adalah stasiun kereta terbesar yang aku ketahui di Kairo, dulunya nama stasiun ini adalah "hosni mubarak", namun ketika presiden mesir ini berhasil lengser oleh masa, dengan begitu nama stasiun ini seketika diganti dengan nama "shohada" yang mengartikan para mujahid yang membela kebanaran demi negara (kejadian 25 january 2011 di Mesir).



menelusuri anak tangga yang terhitung kebawah tanah sana, seakan menuju lorong dan memang cukup unik menurutku. Aku sempat kagum dengan Mesir, selain kaya akan khazanah keislamannya, cara mereka mengatasi kemacetan di kota ini dengan menciptakan metro bawah tanah. Andaikan di Indonesia ada seperti ini, aku rasa dapat mengatasi kemacetan di sana, apalagi Jakarta (khayalan belaka, but why not?).

dengan hanya membeli karcis seharga 1 Le (1 pound) kita bisa turun dimana saja kita mau dan sejauh apapun itu, mungkin itu salah satu keuntungan naik metro, selain murah juga cepat. Dengan selembar karcis yang kubeli, aku langsung memasukkan karcis tersebut kedalam pintu masuk, sebab dengan karcis itu barulah pintu besi itu bisa berputar.

sekarang waktu menunjukkan pukul 16:00 CLT, alhamdulilah aku bisa tepat waktu. tapi aku tak melihat mereka sama sekali di sana. handphone adalah sasaran utama disaat saat seperti ini.

O'oow ternyata dengan santai mereka jawab masih di helwan, memang mereka semua bertempat tinggal di sana, sedangkan aku sendiri tinggal di H-10 nasr city (banyak mahasiswa asing yang tinggal di daerah ini). Dan sekarang tujuan kami adalah "muasasah" (akhir stasiun metro yang arah ke shubra).

huufhhh... aku hanya bisa menarik nafas panjang. duduk menunggu di satasiun, terbayang bagaimana ditengah-tengah lalu lalang orang dengan keadaan sendiri (sangat membosankan). metro yang selalu saja melintas di hadapanku seolah tidak merasa bersalah meninggalkanku sendiri di sana.

sedikit obrolan sahabatku yang ketika itu kebetulan menelfonku setidaknya dapat dapat mencairkan suasana, namun itu hanya beberapa menit saja. Wal akhir MP3 di hp satu-satunya solusi terbaik kalau sudah BeTe begini. yah aku rasa "Saujana" adalah the best chois, emang lagu-lagunya sejak lama sudah memikat hati.

mereka semua memang keterlaluan, sampai pukul 17:20 CLT, satupun batang hidung diantara mereka belum ada yang tampak.

"ma'alisy ya nur" pinta maaf samah tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

"Ahaaaa..." kaget ku. melihat mereka sudah disampingku senyumku makin melebar, seakan kajenuhan sirna dalam sekajap.

"La, mush musykilah (tidak apa-apa)" ujarku sembari memeluk pertanda kalau aku sangat merindukan mereka.


--------- ***** ---------


perjalanan jauh tak terasa sudah dengan diselingi canda tawa bersama mereka. Apalagi begitu melihat hebah yang malam itu menjadi permaisuri, sangat anggun dan menawan hati. sungguh bahagia rasanya turut menghadiri acara itu. jika sahabatku mendapatkan kebahagiaanya, akupun turut senang.






=> Cerita edisi "CURHAT" ^_^,.

Sabtu, 22 Oktober 2011

penjemputan temen-temen baru



alhamdulilah....

penyambutan buat anak-anak baru udah selesai. hmm terbayang... beberapa hari silam empat orang mahasiswa (imam, k' novan, aku & mila) selalu aja ngobrolin masalah anak-anak baru. konsep inilah itulah,, yang memang harus kita kerjakan bareng-bareng. dan alhamdulilah berjalan lancar.

hakikatnya kita hanya mewakilkan ust maulana aja selaku broker IKPM di indonesia. beliaulah yang mengurus pemberangkatan mereka semua, kita hanya meneruskan disini. dari mulai penjemputan, mencarikan flat (tempat tinggal), pendaftaran di al-Azhar, perpanjangan visa, dan juga lapor pendidikan (yap emang harus dengan konsep yang matang!!).

hmm... salut ma temen-temen separtner ^_^., kita berempat rasa-rasanya emang g' asing lagi untuk kerja bareng, (mungkin karena udah lama kita berkecimpung di dunia IKPM). yaah itulah yang aku rasakan, dalam berorganisasi susah senang kita alami bersama ^_^,. hehee romantis banget yaa..!!!

ya.. separuh tugas udah terselesaikan. alhmdulilah dalam penjemputan temen-temen baru g' ada halangan apa-apa. dan sekarang mereka semua sudah tenang di flat masing-masing. hmm tinggal separuh tugas lain, yang mudah-mudahan lancar. amin...

trimakasih juga buat temen-temen IKPM lainnya, yang udah bantu tenaga dan fikiran tuk kelancaran penjemputan temen-temen baru. moga amalan dan jerih payah mendatangkan berkah kelak.. amin ya rabb ^^

Senin, 17 Oktober 2011

Syahadah an-Nisa' (saksi perempuan)

: باب شهادة النساء وقوله تعالى
{ فإن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان }
(لبقرة : 282)

:حدثنا ابن أبي مريم أخبرنا محمد بن جعفر قال
أخبرني زيد عن عياض بن عبد الله عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال
((أليس شهادة المرأة مثل نصف شهادة الرجل؟)) قلن: بلى قال: ((فذلك من نقصان عقلها))

Hadits sohih Bukhari bab syahadah an-Nisa' [2658].

untuk kesaksian laki-laki disyariatkan cukup satu orang, sedangkan perempuan dua orang. mengapa demikian?

di hadits ini tertera sebuah alasan, karena kurang nya akal mereka.
dalam artian: akal seorang wanita lebih sedikit dari pada laki-laki.

Dari hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan, kenyataanya memang akal perempuan setengah dari pada kaum laki-laki.

tapi tidak cukup sampai disitu, lalu kita memberi titik besar.
karena ternyata disisi lain wanita mempunyai nilai lebih.
dengan setengah "akal" yang mereka punya, namun wanita mempunyai "kelembutan" yang tidak dimiliki oleh kaum pria.

dengan nilai tambahan itu mungkin derajat antara perempuan dan laki-laki menjadi sama.

(wallahu a'lam bishawab)

dimyat











Jumat, 07 Oktober 2011

Perbandingan perspektif antara teologi Jabariyah & Qodariyah

A. Muqoddimah

Aqidah menurut bahasa berasal dari kata ‘aqd. Yang berarti penguatan, pemantapan, dan pengikatan dengan kuat. Sedangkan menurut istilah, yakni keimanan yang teguh, yang tidak dihinggapi suatu keraguan apapun bagi pemiliknya. Dengan demikian, aqidah islamiyah berarti keimanan yang teguh kepada Allah ta’ala berupa tauhid dan ketaatan kepada malaikat, kitab-kitabnya, para Rasul, hari akhir, takdir dan semua perkara ghaib, serta berita-berita lain dan hal-hal yang pasti, baik berupa ilmu pengetahuan maupun dalam amal perbuatan.

Aqidah kerap disebut juga dengan ilmu kalam, itu dikarenakan banyak timbulnya madzhab ataupun banyaknya mutakalimin yang membahas tentang aqidah islamiyah. Jika dilihat dengan kacamata positif, maka beragamnya aliran dan mazhab dalam islam itu menunjukkan bahwa umat islam adalah umat yang kaya dengan corak pemikiran. Ini berarti umat islam adalah umat yang dinamis, bukan umat yang statis dan bodoh yang tidak pernah mau berfikir. Namun dari semua aliran yang mewarnai perkembangan umat islam itu, tidak sedikit juga yang mengundang terjadinya konflik dan membawa kontroversi dalam umat, khususnya aliran yang bercorak atau berkonsentrasi dalam membahas masalah teologi. Agar tidak terjebak dalam kesalah pahaman teologi tersebit, maka perlu adanya pembahasan yang lebih mendalam.

Terkait Qada’ dan Qadar, mula-mula muncul permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia (al-jabr wa al-ikhtiyar). Pemikiran masalah ini melahirkan dua paham pemikiran ekstrim yang berbeda, yaitu jabariyah dan qadariyah. Secara garis besar paham Jabariyah dan Qodariyah sangatlah bertentangan, yang mana jabariah sangat berpegang teguh dangan taqdir Allah SWT, sementara Qodariyah mengingkari adanya taqdir Allah SWT.

Untuk lebih jelasnya tentang aliran Jabariyah dan Qodariyah akan dipaparkan dalam pembahasan berikut, dengan sub-sub: defenisi Jabariyah dan Qodariyah, Asas-asas dasar kedua teologi ini, dan perbandingan antara keduanya.


B. Defenisi teologi Jabariyah dan Qodariyah

1. Jabariyah

Nama Jabariyah berasal dari kata Jabara yang memiliki arti memaksa . Aliran Jabariyah muncul di khurasan. Pelopor aliran ini adalah al-Ja’d bin dirham (yang tebunuh tahun 124 H). Ide Jabariyah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu jahm bin shafwan. Dan teologi ini menurut Jahm bin Shafwan: Manusia tidak mempunyaikekuasaan untuk berbuat apa2, manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan, manusia dalam perbuatan-perbuatanya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya .

Paham ini pada dasarnya sudah ada sejak sebelum datangnya Islam kenegeri Arab, konon negeri arab yang penuh dengan gurun pasir sahara telah member pengaruh besar kedalam cara hidup mereka. Ditengah bumi yang disinari terik mata hari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, disana sini hanya tumbuh rumput keras dan beberapa pohon yang cukup kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. Dengan suasana alam yang demikian menyebabkan mereka tidak punya daya dan kesanggupan apa-apa melainkan semata-mata patuh, tunduk, dan pasrah kepada kehendak Allah SWT.

Aliran Jabariyah berpendapat mengatakan segala sesuatu yang terjadi pada manusia atau jagad raya ini merupakan kehendak Allah semata tanpa peran serta sesuatupun termasuk didalamnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Aliran Jabariyah mengibaratkan bahwa perbuatan manusia tak ubah seperti dedaunan yang bergerak diterpa angina tau dalam ilustrasi yang sangat sedehana bisa dicontohkan bahwa aliran Jabariyah menggambarkan manusia bagaikan robot yang disetir oleh remote control.

2. Qodariyah

Kata Qodariyah berasal dari kata Qadara yang memiliki arti kekuatan atau kemampuan, disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham tentang penolakan terhadap adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya intervensi Allah SWT.

Faham Qadariyah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailani al-Dimasyqi. Mereka mengambil paham ini dari seorang Kristen yang masuk islam di Irak kemudian masuk Kristen lagi, menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri, bebas dari kehendak Allah. Jadi, perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah swt.

Menurut al-Zahabi, Ma’bad adalah seorang tabi’I yang baik. Tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak ‘abd ar-Rahman ibn al-Asy’as, gubernur sajistan,dan menentang kekuasaan bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj. Ma’bad mati terbunuh pada tahun 80 H .

Setelah itu Ghilan sendiri terus menyiarkan faham Qodariyahnya di Damasqus, tetapi mendapat pertentangan dari khalifah Umar bin Abdul Aziz, setelah khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat, maka beliau melanjutkan kagiatanya yang lama sehingga ai akhirnya mati dihukum bunuh oleh Hisyam Abd al-Malik (724-743 M). Sebelum dihukum bunuh ia sempat berkata:

Manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatanya, manusia-manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaanya sendiri dan manusia sendiri yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri .

Aliran mu’tazilah bisa dikatakan sama dengan Qodariyah, atau bisa dibilang bahwasanya faham Qodariyah masuk dalam aliran mu’tazilah. Karena keduanya mempunyai salah satu cirri yang sama yaitu manusialah yang membuatpekerjaanya sendiri.

C. Asas-asas dasar ajaran teologi Jabariyah

Ayat-ayat yang dijadikan dasar ajran teologi Jabariyah diantaranya:

1. Tidak ada bencana yang menimpa muka bumi dan diri kamu kecuali telah ditentukan (didalam buku) sebelum kami wujudkan.(al-Hadid:22)

2. Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.(as-Shafft:96)

3. Tidak kamu menghendaki, kecuali Allah menghendaki.(al-Insan:30)

Ayat-ayat yang dijadikan dasar ajaran teologi Qodariyah diantaranya:

1. Buatlah apa yang kamu hendaki, sesungguhnya ia melihat apa yang kamu perbuat (Fussilat:40)

2. Tuhan tidak mengubah apa yang ada pada suatu bangsa, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.(al-Rafd:11)

3. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.(an-Nisa:111)


D. Perbandingan antara Jabariyah & Qodariyah.

Dalam faham Jabariyah, mereka menganggap bahwasanya perbuatan manusia bagai kapas yang melayang diudara yang tidak memiliki sedikitpun daya untuk menentukan gerakanya yang ditentukan dan di gerakkan oleh arus angin. Sedang yang berfaham Qodariyah akan menjawab, bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia sendiri, dalam artian sesungguhnya manusia itu mempunyai otoritas mutlak untuk merubah nasibnya sendiri, bukan atas kehendak Allah swt.

Murji’ah lebih cendrung pada faham Jabariyah yaitu mengusung bahwasanya Allah SWT adalah qodim bukan hadits. Lain halnya dengan mu’tazilah yang juga menganut faham Qodariyahyang mana mereka mengingkari Allah SWT adalah qodim, dan mereka juga beranggapan bahwasanyakalam Allah SWT adalah makhluk.

Pada musibah gempa di Sumatra (padang, jambi, dan Bengkulu) yang baru saja terjadi, dari kedua faham ini akan timbul pendapat yang masing-masing mempunyai efek yang berbeda. Bagi yang berfaham Jabariyah, sudah cukupbila tindakan membantu korban dan memetik hikmah dari kejadian tersebut. dan hikmah yang dimaksud adalah dengan mengakui kesalahan dan dosa, setelah itu tidak mengulangi dosa yang telah diperbuat. Sedang yang berfaham Qodariyah, meski gempa tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia, namun mereka akan menyelidiki apakah kejadian gempa tersebut akibat manusia yang telah mengganggu ekosistem kehidupan dan menyebabkan alam marah? Dengan begitu faham Qodariyah akan lebih banyak melakukan investigasi pencaritahuan) lebih besardari pada Jabariyah.

E. Penutup

Setelah kita membaca dan menelaah tulisan sederhana diatas secara otomatis dapatlah kita menyimpulkan bahwa faham Jabariyah disebut juga sebagai faham tradisional dan konservatif dalam islam dan faham Qodariyahdisebut juga sebagai faham rasional dan liberal dalam islam. Kedua faham teologi islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama)- sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (al-Qur’an dan hadits-hadits nabi Muhammad SAW), dan aqli (argument pikiran)

Pada faham Jabariayh mereka sangat ekstrim menganggap semua hal yang terjadi mutlak atas kehendak Allah SWT.dan pada faham Qodariyah mereka juga sangat ekstrim menganggap manusia sendirilah yang menentukan segala sesuatu dengan kehendak sendiri tanpa ada ketetapan dari allah SWT. Kedua faham ini sangatlah berlebihan. Dan pada kenyataanya Allah SWT tidak menyukai hal yang berlabih-lebihan “innallaha la yuhibbul musrifin”

Alangkah akan lebih baik jika kita mengambil kemoderatan atau jalan tengah dari kedua faham ini, yakni dengan meyakini bahwasanya Allah SWT telah menentukan semuanya, akan tetapi kita sebagai hamba seharusnya agar tetap selalu berusaha dan bukan hanya pasrah begitu saja. Wallahu a’lam bisshawab…




Daftar Pustaka

1. Al-Qur’an dan terjemahnya oleh Dapertemen Agama RI, al-Hikmah, Jawa Barat, Indonesia, 2007

2. Al-Amidy, Ghayah al-Maram fi ilmi al-kalam, al-Majlis al-‘Ala li syu’unal-islamiyah, al-Qahirah, 1971, hal-85.

3. Nata Abudin. Ilmu Kalam Filsafat dan Tasawuf (dirasah islamiyah, Jakarta: Grafindo Persada hal-35

4. Ali al-Musthafa, al-Ghurabi, Trikh al-firaq al-Islamiyah. Cairo hal-33

Sabtu, 01 Oktober 2011

Jumat, 30 September 2011

"Meminta pada Sang Pemilik"

Malam ini, dalam lubuk kepalaku barfikir keras. buncahan pertanyaan sempat memenuhi otak sempit ini. dan... aku hanya bisa bergumam :

keberhasilan..??
Apa sebenarnya hakikat keberhasilan?

ketika ada sebuah pintu. dan semua orang sangat berantusias tuk membuka pintu itu. kita bisa melihat satu persatu apa yang mereka lakukan untuk berusaha membuka pintu tersebut.

ada seseorang dengan perjalan sangat jauh lagi banyak tantangan, namun sesampai tepat di depan pintu, Ia sudah merasa lelah, dan tidak mampu lagi tuk membukanya.

ada lagi sesorang, untuk mencapai pintu itu ia harus menaiki tangga begitu tinggi. lalu dengan rasa angkuh, merasa sudah berada di atas, merasa sudah mampu, namun pintu tetap saja tidak bisa terbuka.

Ada lagi seseorang, yang dengan paksa membuka pintu itu, mungkin dengan cara digedor, dipukul, bahkan bisa saja dengan menggunakan alat keras lainnya, namun pintu tetap saja rapat.

hmm.. kalau saja mereka menyadari bahwa pintu itu ada yang memiliki. dan kenyataanya mereka telah "LUPA" bahwa dengan seizin pemiliknyalah kita bisa membuka pintu itu. Andaikan kita mampu tuk mengetuk hati sang pemilik pintu, maka dengan tulus ia akan memberikan kunci pintu itu. Dengan begitu kita bisa membukanya, dan masuk dengan hati tenang.

....^^.....

Dan saat ini, aku mulai belajar tuk mengerti.
memang segala yang ada di Jagat raya ini adalah milik-Nya.
Dia-lah sang Khaliq, yang telah Menciptakan segala sesuatu.
Maka apa pun yang aku inginkan. sudah semestinya aku meminta ridho-Nya.

Tuk Teman hidup..??
sebesar apapun usaha yang telah kita lakukan.
semua itu sama saja akan sia-sia, ketika kita lupa tuk meminta pada Sang pemilik.
Dengan segenap usaha dan doa, serta mengharap "ridho-Nya"



[ malam sunyi yg telah menganugrahi ^_^,. ]

Minggu, 11 September 2011

“ Abu Musthafa “

Siang itu, udara di Mesir cukup membuat ubun-ubunku makin mendidih. Dengan suhu panas yang tinggi ini, membuat kebanyakan orang mengurungkan niatnya tuk keluar dari rumah. Aku yang kebetulan baru pulang kuliah, berjalan menelusuri gang Gami’ (salah satu gang di H-10) bagaikan berjalan di tengah-tengah gurun sahara yang sama sekali tak ada tempatku tuk berlindung dari teriknya matahari.

Huuuuuufh… betul-betul melelahkan. Beginilah hanya secuil gambaran perjuanganku untuk beradaptasi dengan keadaan di Negeri ini.

Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi tepat ketika aku sudah masuk di gerbang flat. Dengan sedikit mengerutkan dahi, aku baca sebuah massage yang baru masuk.

“Vra, gas dan keran air dapur bermasalah lagi, kita minta tolong kalau anti pulang, hampiri Osama ya. Mksh”

Hhhh.. aku hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa massage ini baru sampai ketika aku sudah menutup gerbang flat, berarti itu sama saja aku harus keluar lagi, tuk menemui Osama (beliau adalah salah satu orang yang punya toko peralatan bangunan di Gami’)

Tak terbayang olehku, kalau saja sms itu tiba-tiba muncul ketika aku sudah berada di tingkat tiga atau empat, dan seterusnya. Haruskah aku turun lagi? Ya emang flat kami berada paling atas (tingkat enam) plus tidak ada lift. jadi sudah terbiasa tuk selalu olah raga dengan menaiki satu persatu anak tangga yang berjumlah 120 itu.

Di tengah perjalanan menuju toko Osama, Aku menjumpai sosok orang tua juga sepuh, beliau duduk di bawah pohon yang trnyata juga tak begitu rindang. tidak salah lagi, dialah abu musthafa. Tempat itu adalah tempat kegemarannya. Tiap kali melintasi jalan itu, pasti kita menemukan beliau sedang duduk santai di situ.



Abu musthafa tinggal sendiri di Cairo ini. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Padahal beliau punya satu anak bernama “mushtafa”, dengan itu beliau kerap dipanggil “abu musthafa”. Konon, kabarnya si anak ntah pergi kemana,sampai bertahun-tahun tidak kunjung pulang. Hinggalah kini Abu Musthafa hidup sebatangkara.

“Assalamu alaik ya baba” Sapaku. (baba adalah panggilan ayah tuk orang mesir)

“Wa’aliki salam ya aisyah” jawabnya. (beliau memang menggilku dengan nama aisyah, karena dengan nama asliku “Avra” katanya susah tuk melafalkannya, tapi hanya beliau saja yang memanggilku dengan nama itu). Lalu Beliau bertanya tujuanku hendak kemana.

Akhirnya, aku hanya bisa jelaskan dengan singkat masalah gas dan keran air yang rusak, lalu aku berniat mau ke toko Osama.

Kami memanglah tinggal di flat yang di dalamnya adalah putri semua, jadi maklum kalau ada perabotan rumah yang bermasalah atau rusak, kami biasanya meminta Osama tuk memperbaikinya.

Tiba-tiba abu musthafa beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menuju flat.

“ ya baba, ruh fien?” (pak mau kemana?) kataku hampir sedikit berteriak. Karena abu musthafa sudah hampir jauh.

Aku jadi heran sendiri, beliau emang tidak banyak omong, Selalu diam. Tapi dibalik diamnya, beliau sangatlah ramah dengan siapapun. Tanpa bicara sedikitpun beliau hanya memberikan isyarat menyuruhku untuk balik lagi ke flat.

Masih dengan penuh tanda Tanya, aku hanya bisa mengikuti beliau dari belakang. Beliau sangat hafal flat kami. Sebenarnya kami sudah kenal lama dengan abu musthafa. Karena rumah beliau tepat didepan flat.

Ketika membukakan pintu, Dina yang mengirimkanku massage barusan terheran. Tapi tetap menyambut abu musthafa dengan senyum.

“Ahlan wa sahlan ya baba” sambut Dina.

Dina menutup pintu lalu memandangiku dengan penuh tanda Tanya. Tanpa dengan berbicarapun aku bisa membaca kalimat dari raut wajahnya. Mana Osama? Lalu abu musthafa?

Hmm,,, jangankan Dina, aku sendiripun belum mengerti apa maksud abu musthafa menyuruhku tuk balik lagi ke flat. Sementara aku belum sempat ke toko Osama.

Tanpa basa basi abu musthafa langsung menuju dapur, lalu mengotak-atik gas dan keran yang rusak. ternyata beliau berniat baik tuk memperbaiki gas dan keran itu. Dengan waktu yang singkat, keran pun pulih lagi. Setelah itu, barulah kami melihat senyum abu musthafa yang sumringah, begitu melihat air yang keluar lancar dari keran itu.


------------- ********** --------------


Selang berapa hari Abu musthafa datang lagi ke flat kami. Namun kali ini bukanlah masalah dengan perabotan rumah yang rusak, lalu hal apa yang mendatangkan beliau kemari?

Aku dan kawan-kawan serumah senang dengan kedatangan abu musthafa, Karena beliau sudah banyak membantu kami semua. yang tidak kami sangka sebelumnya. Beliau datang dengan membawa beras, macaroni, gula, dan bahan sembako lainnya.

Beliau hanya bertutur singkat “ kalian adalah anak-anakku, dan datang dari Indonesia ke sini tuk menuntut ilmu, ini semua lebih pantas aku berikan tuk kalian”

Setelah beliau meninggalkan flat, kami semua merasa heran, sedih, haru membaur jadi satu. bagaimana tidak, Kami semua tahu kalau selama ini abu musthafa selalu mendapatkan bantuan dari masyarakat sekitar. Karena beliau dianggap orang yang kurang mampu, hidup sebatang kara, pun tidak punya penghasilan apa-apa, bahkan kalau boleh dibilang mungkin beliau memang selayaknya tuk menerima bantuan dari orang-orang.
Lantas, bagaimana bisa Abu mushtafa menyerahkan bantuan itu kekami? Beliau beranggapan kalau kami ini adalah musafir juga menuntut ilmu fi sabilillah, yang lebih berhaq tuk menerima bantuan itu, dibandingkan dengan dirinya.


----------------*******------------------


Ada ide bagus dari teman-teman, kami ingin memberikan kejutan tuk abu musthafa, dengan memberikan makanan khas Indonesia yang kami masak sendiri. Kami hanya ingin melihat beliau senang.

Tepat setelah shalat maghrib, aku dan Dina pergi ke rumah Abu Musthafa, berniat hanya tuk antarkan makanan itu.

Baru kali ini aku singgah ke rumah beliau, sebelum-sebelumnya hanya melewati dari luar saja, dan itu juga tidak begitu terlihat jelas, karena tertutup oleh pagar flat sebelah yang lumayan tinggi.

Abu Musthafa tampak senang kami bisa singgah ke sana. Kebetulan sekali beliau sedang makan malam. Aku dan Dina membawakan pempek makanan khas Palembang, dan makanan ringan lainnya.

Aku fikir tidak ada yang dapat menyerupai rumah abu musthafa, dan aku yakin ini adalah rumah satu-satunya yang berbeda di Cairo. Rumah yang hanya sepetak saja. Aku tidak tahu pasti berapa ukuran rumah beliau. Namun yang jelas rumah itu tidak ada sekatnya. Hanya berisikan ranjang kecil, lalu di ujung ranjang itu ada sebuah meja yang di atasnya adalah TV (seperti di zaman kuno) hanya berwarna hitam putih, itupun terkadang buram dengan semut-semut yang berhamburan dilayarnya hingga gambarnya tidak tampak jelas. Lalu di samping ranjangnya ada sebuah tikar lusuh yang sekarang kami bertiga duduk di atasnya. Itulah rumah abu musthafa.

Melihat beliau makan, aku jadi teringat kakekku. Hanya saja nasib kakekku lebih beruntung karena masih ada anak-anaknya disampingnya. Sedangkan abu musthafa, hidup sebatangkara dalam mengarungi nasib dimasa tuanya.

Akhirnya kami pamit pulang. Setelah cukup banyak memperhatikan abu musthafa di Rumahnya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari itu semua. Ternyata di zaman sekarang masih ada orang seperti abu musthafa. Aku kira dengan kehidupan yang semakin serba modern ini, sudah tidak ada kesulitan dan kesengsaraan dalam hal apapun. Hanya saja aku masih kurang memperhatikan kehidupan di luar sana, dimana masih banyak orang-orang yang hidup dengan serba kekurangan.

Tanpa kusadari di perjalanan pulang tak kuasa mata ini menahan air mata. Aku hanya bisa berdoa agar beliau selalu diberikan kesehatan. Dan aku yakin, dengan penuh rasa syukur beliau, itulah yang membuat sosok abu musthafa bertahan dalam melewati kehidupan yang fana ini..

Senin, 05 September 2011

my family (Cairo)

Hanya sebuah keluarga sederhana yang tak sengaja terbina di Cairo ini, tak lain hanyalah kumpulan anak-anak yang masih bau kencur. Hmm.. dengan tekad tuk memulung pengetahuan di negeri orang.

Banyak pelajaran yang dapat aku ambil dari keluarga kecil ini. Dengan kepridian dan watak yang berbeda-beda, mungkin dengan itu semua aku bisa lebih belajar memahami sifat antara satu dengan yang lainnya.

kebetulan aku adalah orang tertua dikeluarga ini. Namun bukan berarti akulah yang paling dewasa diantara mereka semua. bagiku, mereka sama halnya dengan kawan sebayaku.

Sungguh, keseharian yang tak lepas dari tawa canda..^_^,. juga diskusi ringan yang terkadang tak pernah ada unsur kesengajaan itu, benar-benar merupakan sejarah yang tak mungkin terulang.

Bulan ramadhan di Mesir sangat-sangat membawa berkah, Khususnya tahun ini. Kami sekeluarga bahkan g’ pernah membeli bahan sembako. di Negeri kinanah ini, emang sudah jadi tradisi mereka memberikan bantuan tuk para musafir, khususnya para pencari ilmu fie sabilillah. Siapa boleh sangka keuangan rumah benar-benar utuh,,,,!!! Alhamdulilah.



Dihari nan fitri ini, uang itu yang telah membawa kami ke dunia fantasi..^_^,. Hmm.. “dream park” memang tempat yang telah membuat orang-orang tidak bisa mengatupkan mulut, bahkan semua orang histeris dengan teriakannya.

Hhhh… meskipun nggak bisa jalan bareng dg keluarga sendiri dirumah, namun hari ini, sudah lebih dari cukup bagiku tuk dapatkan kebahagian itu. Inilah keluargaku di Cairo…^_^,.

<< Nurul, Mila, Uyox, midhe, Hiday, Novi, Aul >>

Rabu, 31 Agustus 2011

“Berilmu mempunyai banyak kelebihan”


• kepala ilmu itu tawadhu,

• matanya adalah bebas dari dengki,

• telinganya adalah faham,

• lisannnya adalah kejujuran,

• hafalannya adalah pemeriksaan,

• hatinya adalah niat yang baik,

• akalnya adalah mengenal perkara-perkara yang wajib,

• tangannnya adalah kasih sayang dan sillaturahim,

• kakinya adalah mengunjungi ulama,

• tekadnya adalah kesehatan,

• hikmahnya adalah wara atau hati-hati,

• tempatnya adalah selamat,

• penuntunya adalah kesejahteraan,

• senjatanya adalah kelembutan bicara,

• pedangnya adalah keridhaan,

• busurnya adalah dialog,

• pasukannya adalah berdekatan dengan ulama,

• hartanya adalah adab dan amal,

• tabungannya adalah menjauhi dosa,

• bekalnya adalah kebaikan,

• petunjuknya adalah hidayah,

• teman dekatnya adalah bersahabat dengan orang shaleh yang menuntut ilmu.

"lebaran Q tahun ini"

Alhamdulilah...

Hari yang fitrah "idul fitri" kini telah tiba, dan semua umat muslim turut senang tentunya tuk merayakan hari agung ini, tak jauh juga Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir),setiap lebaran masisir semuanya berkumpul di Masjid al-Salam, tuk shalat ied berjama'ah dan makan bersama. itu semua memang sudah dipersiapkan oleh KBRI tuk masyarakat Indonesia yang ada di sini.

emang jauh berbeda dengan suasana lebaran di rumah sendiri. bisa berkumpul dengan sanak saudara, serta saling meminta maaf. akan tetapi, lebaran berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangan di masjid al-Salam emanglah lebih mengharukan. mungkin karena kita semua sama-sama jauh dari family, dan sama-sama merantau di negeri orang.

ya, suasana lebaran seperti itu yang sudah dua kali aku alami...^_^,.
tapi, untuk lebaran yang ketiga kalinya (sekarang). aku tidak lagi berada di tengah-tengah mereka. hmm... aku lebih memilih untuk sendiri.

ntah lah.. apa yang sekarang ada dalam fikiranku..
Aku langsung bergegas pergi. huuuufh, itupun belum tahu tujuan, hendak kemana kaki ini akan melangkah.



akhirnya, pilihanku jatuh pergi ke tahrir...
ya, mungkin dengan pemandangan sungai nil yang sangat menawan itu, setidaknya bisa membuat hati ini lebih sejuk dan damai....>>


Aku hanya bisa duduk terdiam seribu bahasa. pasrah tanpa kata hendak terucap...
bahkan air sungai yang menyapa pun, aku mengacuhkanya...







aku hanya tertarik pada kapal yang terus melintas di depanku. dimana orang-orang di dalamnya bersorak ramai, seperti kebiasaan orang-orang mesir, ketika mereka merasakan kebahagiaan mereka nggak sungkan-sungkan tuk menari. bahkan melonglong dengan suara khas mereka... hmmm jujur akupun tak bisa menirukanya, (padahal teman-temanku pernah beberapa kali mengajariku, tapi tetap saja aku tidak bisa menirukan suara mereka)

Kali ini, gelombang-gelombang kecil itu kembali menyapaku...
mereka memanggilku, seolah memang ada sesuatu yang hendak mereka sampaikan.
hmm... sebelum mereka bicarapun aku ternyata sudah melihatnya..^_^,.
mereka menghadirkan bayangan keluargaku.. sungguh menakjubkan. aku bisa melihat wajah bapak, ibu, mbak roh, mas sunu, mbak suk, mbak ria, juga mas aan.

sungguh kebahagian yang sangat..>> walaupun kini aku tidak bersama mereka. namun mereka semua kan tetap selalu ada bersamaku...^_^,.



Nil, 30 Agustus 2011











"Bersih hati, Suci jiwa"

malam ini adalah i'tikaf terakhir di bulan suci tahun ini insyallah...

masjid rob'ah (nama asli masjid itu "robiah al-adawiyah", tapi orang-orang mesir menyebutnya dengan masjid rob'ah), masjid yang selalu memberikanku ketenangan, dia juga selalu memberikanku motivasi yang membuat kehidupanku lebih bermakna. dan tuk kali ini, dialah satu-satunya saksi bisu, yang kini telah mengukir warna dalam diriku.

Sungguh moment penting yang begitu mahal untukku, detik-detik akhir yang harus aku lalui dibulan ramadhan ini. hanyalah dengan sedikit usaha tuk selalu taqarrub dengan-Mu wahai sang khaliq...

tat kala fajar menyongsong, entah apa yang ada dalam benakku. terlintas rasa sedih. begitu sangat sesak, tak ingin rasanya bulan penuh rahmat ini berakhir begitu saja.

kumandang azan subuh, begitu menyusup di dada. hendak kah waktu ini dapat kembali berputar? hhhhh... aku tak dapat menjawabnya. akan tetapi, aku hanya bisa berharap, bertemu dengan Ramadhan mendatang, itu adalah suatu anugrah terbasar bagiku.



rob'ah 29 agustus '11


Sabtu, 20 Agustus 2011

rindu Q

Heningnya malam, pekat, pun begitu hampa. Aku tak mendengar suara apapun kecuali detik jam yang terletak tepat dihadapanku. Karena saat ini aku sedang terduduk di meja belajarku. Ya, sedari tadi aku termenung, dan hanya memandangi fhoto yg ada dihadapanku.

Hhhh… helaan nafasku berhembus, dan hanya senyuman kecil yang bisa terukir di wajahku. ketika kumelihat wajah ibuku di sebuah bingkai fhoto yang kini kuraih. Tak luput segera keberikan pelukan hangat pada frame yang hanya bermotif polos itu, pertanda kalau saat ini ku sedang merindukannya.

Kini hayalanku buyar ntah kemana, teringat olehku bayangan ibu ketika aku pulang ketanah air lima bulan yang lalu. Dari kejauhan aku melihat ibu sudah menitikkan air mata begitu melihatku di bandara, Ibu langsung memelukku erat-erat, disertai kecupan sayang yang sudah dua tahun aku tidak merasakannya, serasa begitu damai aku dalam pelukannya.

Walau hanya sebulan setengah aku di rumah, tapi waktu yang sangat sedikit ini bagiku bagaikan perhiasan yang tidak ternilai lagi harganya. Hingga tak mampu lagi hendak kututurkan dengan kata-kata.

------ * * * * ------

Suatu malam , Aku serasa ada yang aneh pada ibu, ya ibu tiba-tiba datang menghampiriku, sembari kulihat di tangannya sebuah buku yang sekilas kubaca di sampul depannya “Kaidah membaca al-Quran dengan Tajwid”, hmm.. awalnya aku mengira ibu akan menanyakan sesuatu padaku. Tapi ternyata dugaanku salah. Justru ibu memintaku untuk diajarkan ilmu tajwid, dan cara membaca al-Quran yang baik dan benar.

Dengan senang hati aku dan ibu terus belajar tuk mengulas pembahasan ilmu tajwid. Aku bangga pada Ibu, walaupun usianya sudah tua, tapi semangat belajarnya melebihi aku yang masih mahasiswi. bahkan cucunya kini sudah enam, memang dikeluargaku hanya aku yang belum menikah, kelima kakakku sudah berkeluarga. Tentunya ayah dan ibuku sudah dipanggil kakek dan nenek sejak aku menginjak kelas lima SD.

Sambil membaca contoh ayat-ayat yang tertera di buku itu. Sesekali aku memandangi ibu, senyuman kecil yang dapat kuberikan walau tak terlihat olehnya. Tanpa kusadari, aku melihat bayangan di samping ibu, tepatnya bayangan masa kecilku. Terlihat jelas di mataku, sosok kecilku di pangkuan ibu dengan suara lantang menghafalkan surat-surat pendek, aku mengikuti apa yang dibaca oleh ibu.



Ya allah… bagaimana bisa kali ini dunia terbalik, saat ini aku tengah mengajarkan ibu, Yang mana dulu ibu mengajarkanku bagaimana cara membaca al-Quran, dan menghafalkan doa-doa. Aku bengong sejenak, ayat yang kubacapun akhirnya terputus. Ibu hanya heran melihatku yang tiba-tiba berhenti membaca. Tapi kulanjutkan kembali membacanya, tuk menyembunyikan rasa haruku pada ibu. Rasanya ingin menitikkan air mata jika mengingat bagaimana perjuangan ibu dimasa kecilku dulu.


---------- * * * * -----------


Tepat pukul 02:00 tanpa sengaja aku terbangun dari tidurku. Padahal seperti biasa aku memasang alarm pukul 03:00 tuk shalat tahajud. Tapi entahlah kali ini, rasanya ingin keluar dari kamarku. Aku berniat tuk kedapur tuk minum, karena rasa dahaga yang tiba-tiba menyerbuku. Mungkin ini juga kesempatanku tuk sekalian ambil air wudhu’.

Begitu melintasi kamar ibu. Aku mendengarkan lantunan kalam ilahi yang di baca oleh ibu. Suara yang terbata-bata pun agak serak, Mungkin karena ibu juga sudah tua. Tapi sungguh, ketika ku mendengarkan suara itu, terasa hati begitu sejuk, tapi juga ada perasaan sedih, pilu, haru membaur jadi satu. Entah apa yang tiba-tiba datang menyayat hati. Pelupuk matapun bak riak sungai yang mengalir dengan derasnya.


-------- * * * * --------


Tanpa terasa, kini air mataku membasahi frame fhoto yang dari tadi berada dalam pelukanku. Rasa rinduku pada ibu makin tertanam begitu dalam, hingga akarpun tak mungkin lagi tuk menggapainya.

Bu… Izinkan anakmu ini, tuk beberapa waktu lagi tuk tatap di Negeri seribu menara ini, demi memulung sebuah ilmu. Walau jarak yang memisahkanku darimu, tapi batinku kan selalu rapat disisimu.

Wahai malam.. sampaikan salamku tuk ibu. Katakan padanya kalau kini aku sangat merindukannya. Rindu akan belai kasihnya. Pun mengharap, ku selalu berada di pelukannya.

Wahai Sang Khaliq.. kumohon lindungilah ia. Jagakanlah agar senyuman tetap selalu terukir diwajahnya. Jangan biarkan marabahaya dan penyakit menghampirinya.

I LOVE YOU my mom…..>>>

Madrasah, 20 agustus 2011






Jumat, 19 Agustus 2011

rihlah tarbawiyah part III



udah jadi agenda tahunan pondok Darussalam Gontor mengirimkan santri dan santriwatinya studi banding ke negara lain, dengan tujuan untuk meningkatkan bahasa, khususnya english dan arab.

hmm... alhamdulilah tuk yang kedua kalinya, aku diberi amanah untuk bisa bergabung dengan santriwati jadi mudabbirah mereka selama di Mesir. Awalnya, sempat ada rasa nggak pede, dengan bahasa arabku yang pas2an, ketika harus mengajak mereka tuk berbahasa arab yg baik dan benar...
bismilah, mungkin ini adalah kesempatan baik. ana anggap amanah ini adalah wujud pengabdianku tuk pondok. mudah2an apa yg aku lakukan membawa berkah, amin.

"Ustadzah, ma hadza..??"
"ustadzah, limadza ha kadza..?"
banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil mereka. aku hanya bisa tersenyum..^_^,. sedikit demi sedkit aku coba tuk jelaskan ke mereka tentang kehidupan di Mesir. Hingga akhirnya mereka memberanikan diri tuk berkomunikasi langsung dengan orang-orang Mesir.



Sebuah pengalaman yang begitu berharga bagiku, yang mungkin tidak akan kutemui lagi jika aku sudah pulang ke tanah air. memang kegiatan yang begitu padat, dari mulai membangunkan mereka sahur, mengajak mereka shalat jama'ah, mengawasi mereka dalam pelatihan bahasa arab di Jannatul ma'wa. Hingga menemani mereka tuk berkunjung di tempat2 bersejarah. kalau boleh dikata 24 jam aku bersama mereka.



Walau hanya 10 hari aku bersama mereka. Sungguh ini semua bak mimpi yang tak kan pernah hilang dari ingatanku. kesemangatan dan tawa canda di wajah mereka, itu semua yang membuat kepenatan dalam diripun langsung hilang entah kemana...

mudah2an ilmu yang mereka dapatkan di bumi kinanah ini bermanfaat, amin.
dan bisa mereka terapkan di pondok, hingga bisa disalurkan kpd teman2 yg lain.
moga suksess adik2ku.....^_^,.

*WISH YOU LUCK *

Jumat, 12 Agustus 2011

Muhammad Rasyid Ridha

(sang reformis salafiah modern )


* Pendahuluan

Perkembangan pemikiran Islam senantiasa meluas kepenjuru dunia Dari perkembangan pemikiran itu dapat kita lihat bagaimana corak pergerakan dan cara pandang keagamaan yang sangat memengaruhi kehidupan sosial, politik, dan budaya umat Islam. Dengan itu mulailah bermunculan sosok reformis seperti Muhammad Abduh, Badi’uzzaman Nursi, Jamaluddin al-Afgani, Rasyid Ridho dan para tokoh pembaharu lainnya.

Kali ini penulis akan mambahas Muhammad Rasyid Ridha sang reformis salafiah modern yang mencoba menafsirkan kembali nila-nilai Islam, dan berupaya menemukan landasan yang kokoh bagi pembaharuan kehidupan kaum muslimin, sehingga mereka akan lebih modern dan rasional dalam berfikir.

* Biografi singkat Muhammad Rasyid Ridha

Muhamrnad Rasyid bin Al Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin al-Qalmuni al-Husaini, Lahir pada tanggal 27 jumadil awal tahun 1282 H / 1865 M di sebuah desa bernama Qalmun, di sebelah selatan kota Tharablas (Tripoli) atau Syam, ayahnya yang sangat muhtarom hingga tak heran jika anaknya tumbuh sebagai sosok anak yang cerdas. Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Jika di telisik lebih jauh, ternyata Rasyid Ridha memiliki pertalian darah dengan Husen Anak dari Ali bin Abi Thalib dan Sayidina Fatimah (putri Rasulullah SAW).

Setelah menamatkan pelajaran dilingkungan tempat tinggalnya, yang dinamai al-Kuttab, Ridha dikirim oleh orangtuanya ke Tripoli ( Libanon ) untuk belajar di Madrasah Ibtidaiyah yang mengajarkan ilmu nahwu, shorof, akidah, fiqih, berhitung dan ilmu bumi, dengan bahasa pengantar adalah bahasa Turki, mengingat Libanon waktu itu ada dibawah kekuasaan kerajaan Utsmaniyah.

Ridha tidak tertarik pada sekolah tersebut, setahun kemudian dia pindah kesekolah Islam negeri yang merupakan sekolah terbaik pada saat itu dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, disamping diajarkan pula bahasa Turki dan Prancis. Sekolah ini dipimpin oleh ulama besar Syam ketika itu, yaitu Syaikh Husain al-Jisr yang kelak mempunyai andil besar terhadap perkembangan pemikiran Ridha sebab hubungan keduanya tidak berhenti meskipun kemudian sekolah itu ditutup oleh pemerintah Turki. Dari Syaikh inilah Ridha mendapat kesempatan menulis dibeberapa surat kabar Tripoli yang kelak mengantarnya memimpin majalah al-Manar.

Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh Muhammad Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh), Nida’ Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri’ Al-’Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW), dan Haquq Al-Mar’ah As-Salihah (hak-hak wanita Muslim).

* Sosok Pembaharu didunia islam

Di bidang agama, Rasyid Ridha mengatakan bahwa umat Islam lemah karena mereka tidak lagi mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang murni seperti yang dipraktekkan pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Melainkan ajaran-ajaran yang menyimpang dan lebih banyak bercampur dengan bid’ah dan khurafat. Ia menegaskan jika umat Islam ingin maju, mereka harus kembali berpegang kepada Alquran dan Sunah. Menurutnya, Al-quran dan hadis harus dilaksanakan serta tidak berubah meskipun situasi masyarakat terus berubah dan berkembang.

Di bidang pendidikan, Rasyid Ridha berpendapat bahwa umat Islam akan maju jika menguasai bidang ini. Oleh karenanya, dia banyak menghimbau dan mendorong umat Islam untuk menggunakan kekayaannya bagi pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Dalam bidang ini, Ridha pun berupaya memajukan ide pengembangan kurikulum dengan muatan ilmu agama dan umum. Dan sebagai bentuk kepeduliannya, ia mendirikan sekolah di Kairo pada 1912 yang diberi nama Madrasah Ad-Da’wah wa Al-Irsyad.

Dalam bidang politik, Rasyid Ridha tertarik dengan ide Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Sebab, ia banyak melihat penyebab kemunduran Islam, antara lain, karena perpecahan yang terjadi di kalangan mereka sendiri. Untuk itu, dia menyeru umat Islam agar bersatu kembali di bawah satu keyakinan, satu sistem moral, satu sistem pendidikan, dan tunduk dalam satu sistem hukum dalam satu kekuasaan yang berbentuk negara. Namun, negara yang diinginkannya bukan seperti konsep Barat, melainkan negara dalam bentuk khilafah (kekhalifahan) seperti pada masa Al-khulafa ar-Rasyidin. Dia menganjurkan pembentukan organisasi Al-jami’ah al-Islamiyah (Persatuan Umat Islam) di bawah naungan khalifah.

Khalifah harus ditaati sepanjang pemerintahannya dijalankan sesuai dengan ajaran agama. Ia merupakan kepala atau pemimpin umat Islam sedunia, meskipun tidak memerintah secara langsung setiap negara anggota. Dan menurut Rasyid Ridha, seorang khalifah hendaknya juga seorang mujtahid besar yang dihormati. Di bawah khalifah seperti inilah kesatuan dan kemajuan umat Islam dapat terwujud.

* Kitab yang menjadi pengaruh hidupnya.

Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-’Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris).

Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu.

Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh dibuang ke Beirut pada akhir 1882, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya.

kegemarannya dalam membaca kitab “Ihya Ulumiddin” karya Imam al-Ghazali yang dibacanya berulang-ulang hingga benar-benar mempengaruhi jiwa dan tingkah lakunya . Sampai beliau pernah berkata “Aku selalu berusaha agar jiwaku suci dan hatiku jernih, supaya aku siap menerima ilmu yang bersifat ilham, serta berusaha agar jiwaku bersih sehingga mampu menerima segala pengetahuan yang dituangkan kedalamnya”.Dalam rangka menyucikan jiwa inilah, Ridha menghindari makan-makanan yang lezat-lezat atau tidur diatas kasur, mengikuti cara yang dilakukan kaum sufi..

* “Al- manar” karya populer (magnum opus).

Majalah al-Manar sendiri terbit edisi perdana pada tanggal 17 Maret 1898. berupa media mingguan sebanyak delapan halaman, yang mana melalui majalahnya ini merupakan benih yang baik, menjadikan kaum Muslimin mengarahkan perhatian mereka kepada hadis-hadis Rasulullah. Dan al-manar sendiri bersandarkan pada al-maroji’ al-islami. Hal ini mendapatkan sambutan hangat tidak hanya di Mesir tetapi juga negara-negara sekitarnya.

Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas Al-Azhar, Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Selanjutnya, catatan-catatan itu disusun secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali. Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan, barulah tulisan itu diterbitkan dalam majalah al-Manar. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi Tafsir Al-Manar.

Tafsir al-Manar yang bernama Tafsir al-Quran al-Hakim memperkenalkan dirinya sebagai kitab tafsir satu-satunya yang menghimpun riwayat-riwayat yang shahih dan pandangan akal yang tegas yang menjelaskan hikmah-hikmah syariah serta sunnatullah yang berlaku terhadap manusia dan menjelaskan fungsi al-Qur'an sebagai petunjuk untuk seluruh manusia disetiap waktu dan tempat serta membandingkan antara petunjuknya dengan keadaan kaum Muslimin..

* Kembali ke manhaj salafi

Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai Sufi dengan mengikuti Tarekat Naqsyabandiyyah, beliau menuturkan, “Saya sudah menjalani Tarekat Naqsyabandiyyah, mengenal yang tersembunyi dan paling tersembunyi dari misteri-misteri dan rahasia-rahasianya. Aku telah mengarungi lautan Tasawuf dan telah meneropong intan-intan di dalamnya yang masih kokoh dan buih-buihnya yang terlempar ombak. Namun akhirnya petualangan itu berakhir ke tepian damai, ‘pemahaman Salaf ash-Shalih’ dan tahulah aku bahwa setiap yang bertentangan dengannya adalah kesesatan yang nyata.”

Dalam pandangan al-Allamah Muhammad Kurdi Ali: “Rasyid Ridha mendirikan majalah al-Manar dan menjadikan tema pertamanya “'reformasi islam”. beliau meninggalkan sufisme dan kembali ke manhaj salafi. Dalam memainkan peranan ini, beliau termasuk orang yang banyak mengambil ilmu dari kitab-kitab salaf dan menukil dari pemahaman mereka”. Melalui majalahnya al-Manar, Rasyid sangat mengingkari perbuatan para ahli tarekat Sufi itu. Sebab ia sudah melihat sendiri betapa kemungkaran dan bid’ah yang terjadi dalam berbagai kegiatan spritual tarekat-tarekat sufi.

* Perbandingan dengan gurunya “Muhammad Abduh”

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Kedua syeikh ini, tidak ragu lagi merupakan tokoh pembaharu Islam paling terkemuka pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20. mereka dengan caranya masing-masing telah mencoba menawarkan dan melontarkan beberapa gagasan pembaharuan. Dalam konteks sejarah pembaharuan Islam, pengamatan dan penulusuran terhadap kedua tokoh pembaharuan ini akan menjadi menarik, sebab keduanya akan disoroti lewat kerangka hubungan guru dengan murid..

Muhammad Abduh telah terbiasa berfikir rasional semenjak usia muda. Hal ini terlihat dengan ketidak puasannya dengan sistem pengajaran di Thanta 1862 M. Sedangkan Rasyid Ridha kebiasaan berfikir rasionalnya baru muncul setelah membaca majalah al-Urwah al-Watsqa. Terlebih lagi stelah bertemu langsung dan berdialog dengan Muhammad Abduh. Sementara sebelumnya, Rasyid Ridha dibesarkan dan dipengaruhi oleh lingkungan yang tradisional.

Muhammad Abduh mempunyai hubungan yang luas dengan dunia Barat, pandai berbahasa asing, sehingga dia mampu membaca buku-buku dan naskah-naskah dari Barat. Sementara Rasyid Ridha tidak banyak berhubungan dengan dunia Barat, dan kemampuan berbahasa asingnya relatif kurang, jika dibandingkan dengan Muhammad Abduh

Muhammad Abduh termasuk orang yang liberal dalam memandang aliran atau mazhab, sehingga dia dituduh menganut aliran Mu'tazilah, walaupun dia menentang keras tuduhan tersebut. Nampaknya, hal ini dilakukan semata-mata karena ingin bebas dalam berfikir. Sedangkan Rasyid Ridha dalah pemegang mazhab sampai akhir hayatnya. Dia masih terikat pada pendapat-pendapat Ibnu Hanbal dan Ibnu Taimiyah.

Dalam beberapa hal, Rasyid Ridha lebih unggul dari gurunya, Muhammad Abduh, seperti penguasaannya dibidang hadits dan penafsiran ayat dengan ayat serta keluasan pembahasan berbagai masalah. Disisi tertentu, Ridha pun memiliki konsep yang sama dengan Abduh, seperti penggunaan akal secara luas dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an dan bersikap kritis atas hadits-hadits yang dianggap shahih oleh umat Islam mayoritas

Ridha wafat dalam sebuah kecelakaan mobil setelah mengantar Pangeran Sa'ud al-Faisal ( yang kemudian menjadi raja Saudi Arabia ) dari kota Suez di Mesir pada tanggal 22 Agustus 1935 M.

* Penutup

Muhammad Rasyid Ridha, beliau sebagai penopang dan da'i terbesar bagi gerakan salafiyyah di Mesir khususnya, dan di negeri-negeri Arab pada umumnya, yang gigih berjuang di jalan Allah SWT dan bisa mempertahankan syariat islam.

Dalam uraian yang sederhana ini, akan tampak betapa barat perjuangan para ulama’ terdahulu, demi mengibarkan bendera islam di jagat raya ini. Hendaknyalah kita sebagai generasi penerus untuk bisa memegang estafet perjuangan tersebut. amin.




Daftar pustaka:

1. Hamdy Zaqzuq, Mahmud. A’lam Al-fikri Al-islami. Cairo hal-946.
2. ‘Abdul maqsud Ibrahim, Yusuf. Muhammad Rasyid Ridha fi khidmati sunnah. Cairo
3. Mahmud Tsahatah, ‘Abdullah. al-Imam Muhammad ‘Abduh baina al-Manhaj al-Dini wa al-Manhaj al-Ijtima’i. Cairo.
4. Al-Bana, Jamal. Al-Sayid Rasyid Ridha munsyi’ al-Manar wa ra’id al-Salafiah al-Haditsah. Cairo